user-avatar
Today is Kamis
Mei 17, 2012

Juni 25, 2011

Bagian 19 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: Uncategorized3 Comments

BAGIAN 19

KHOTIMAH

Naskah ini bisa disebut Mini Islamic Worldview fokus pada bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan. Dari sini diharapkan diperoleh pemahaman atas landasan dan arah perjuangan, semangat dan juga keyakinan bahwa insyaallah akan sampai ke tujuan. Jalan yang harus ditempuh juga sudah dijelaskan sebagaimana ditunjukkan Allah dan Rasul-Nya. Berpijak dari sini YBWSA, UNISSULA, Dikdasmen, maupun RSI Sultan Agung memperoleh pegangan untuk menyusun Renstra.

Sukses hanyalah dengan pertolongan Allah. Apa yang akan terjadi esok, sungguh tidak ada yang tahu. Lebih-lebih hari esok yang akhir, akhirat. Sukses sejati adalah sukses dunia sampai ke akhirat. Tentu berat, namun Allah telah memberi petunjuk bahwa sukses dunia yang terus akan berlanjut ke akhirat, untuk sendiri-sendiri maupun keluarga, maupun golongan dan umat kuncinya adalah taqwa, ilmu, dan jama’ah.

Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung adalah yayasan yang dibangun berasaskan visi Islam, atau pandangan hidup Islam. Oleh karena itu semua tokoh di Yayasan ini diharapkan  bukan saja beragama Islam dan menjalankan ritual Islam, tetapi juga harus menjadikan Islam sebagai cara pandang atas segala sesuatu.

Sebagai Yayasan yang bergerak di bidang dakwah melalui pendidikan, Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung bertanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai Islam dengan menjauhkan diri dari berbagai macam paham yang bertentangan, seperti liberalisme dan pluralisme agama.

Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah’ sungguh sebuah cita-cita luhur yang hanya bisa dicapai atas pertolongan Allah dan dengan sepenuh kesungguhan. Universitas besar atau Universitas yang hebat, bukanlah Universitas yang memiliki bangunan-bangunan megah dan peralatan super canggih dan luas wilayahnya, melainkan Universitas yang di dalamnya berkumpul orang-orang yang mengikuti jalan Allah dan Rasul-Nya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu orang-orang soleh yang mendidik generasi khaira ummah dan memberi kontribusi besar dalam membangun dunia baru dengan peradaban mulia, peradaban Islam.

Juni 25, 2011

Bagian 18 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: UncategorizedLeave a comment

BAGIAN 18

HARMONI

Menciptakan lingkungan sehat, untuk hidup sehat berkualitas. Lingkungan  kita adalah tanah, air, dan udara, yang dihuni manusia, fauna dan flora. Bila ditata harmonis, dimanfaatkan dan dilestarikan akan menjadi factor dominan untuk mencapai kehidupan yang sehat berkualitas. Di kampus pendidikan kita sudah ada bangunan, lahan olah raga, lahan hutan tropik, savana, dan kolam. Sudah cukup banyak pohon besar dan kecil yang disukai burung-burung. Nyanyian merdu burung pun alhamdulillah sudah bisa dinikmati. Juga sudah ada ide dan sudah dimulai keberadaan dan pelestarian flora maupun fauna mewakili seluruh tanah air.

Pohon Trembesi adalah salah satu pohon kasih sayang yang membuat harmoni tanah, air, dan udara. Pohon ini tinggi dan kuat serta indah. Akarnya sanggup mempertahankan tanah dan air, paling rakus dengan polusi, sanggup melahap CO2 sampai 28 ton/tahun, dan dengan produksi O2 nya yang melimpah sanggup menyejukkan lingkungan dan suasana kampus.

Dengan demikian kampus akan nyaman dan sehat untuk penghuninya, apalagi dibuatkan fasilitas olah raga seperti lapangan terbuka, track untuk jogging dan bersepeda, olah raga air, dan sebagainya. Bisa jadi Wisata Kampus Islami.

Juni 25, 2011

Bagian 17 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: Uncategorized1 Comment

BAGIAN 17

MENUJU

WORLD CLASS ISLAMIC UNIVERSITY TEACHING HOSPITAL

WCIUTH mempunyai dua fungsi penting yaitu sebagai laboratorium untuk pendidikan ilmu-ilmu kedokteran dan kesehatan, dan sebagai sarana dakwah melalui pelayanan kesehatan.

Kemajuan rumah sakit merupakan salah satu indikator penting berkembangnya ilmu-ilmu kedokteran dan kesehatan baik dari aspek pendidikan, pengembangan ilmu maupun pengabdian, yang perwujudannya adalah pelayanan kesehatan sebagai media dakwah. Karena world class maka di rumah sakit ini berkumpul para dokter dan pakar ilmu-ilmu kesehatan berkelas dunia. Mereka bertugas sebagai pendidik, ilmuwan, dan pendakwah yang juga berkelas dunia. Mereka adalah orang-orang bijak yang berilmu (ulul albaab). Mereka adalah orang-orang yang sangat memahami tujuan tugasnya dan dengan kasih sayang dan keramahannya melaksanakan tugasnya itu dengan sebaik-baiknya sesuai maqashid syariah, yaitu pertama-tama menyelamatkan al dien, dan tentu tujuan syariat lainnya yaitu menyelamatkan kehidupan, menyelamatkan keturunan, menyelamatkan badan/jasmani, menyelamatkan jiwa/’aql/ruhani, dan menyelamatkan kesejahteraan/harta.

Kehidupan keseharian di rumah sakit ini merupakan implementasi Budaya Akademik Islami dengan kesungguhan lebih dalam keramahan pelayanan Islami dengan tema besarnya ‘cintai Allah, sayangi sesama, selamat menyelamatkan dunia akhiratnya’, sebagai manifestasi ruh kalimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pelayanan prima  tersebut benar-benar merupakan perwujudan hasil pendidikan di Universitas Islam, merupakan bagian perwujudan budaya dan peradaban Islam. Hubungan antara para dokter, dosen, mahasiswa, perawat, dan semua tenaga kesehatan yang ada benar-benar menggambarkan contoh kehidupan dan pergaulan yang Islami. Demikian halnya penampilan fisik yang menyejukkan karena busana Islami dan dekorasi Islami pula. Secara fisik disamping peralatan kedokteran dan keperawatan yang canggih, tersedia pula segala fasilitas yang diperlukan khususnya untuk dapat melaksanakan salat dan ibadah lainnya dengan baik, bagi pasien maupun pengunjung.

Juni 25, 2011

Bagian 16 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: UncategorizedLeave a comment

BAGIAN 16

SEKILAS SEJARAH RUMAH SAKIT

Rumah Sakit pertama didirikan adalah Rumah Sakit Bimaristan/Maristan didirikan di masa pemerintahan Khalifah Al Walid (705-715M). Sebelum itu orang berobat di Gereja atau tempat peribadatan lain dan pengobatan masih secara mistis. Setelah itu berkembang pesat Rumah Sakit-Rumah Sakit di kota-kota di wilayah pemerintahan Islam, terutama di era keemasan Islam.

Rumah Sakit di masa itu sekaligus menjadi Teaching Hospital ditandai dengan berkembangnya  ilmu Kedokteran dan berbagai jenis pelayanan di Rumah Sakit seperti Farmasi, Perpustakaan, Rekam Medik, dan sebagainya.

Rumah Sakit sangat menjaga kualitas sehingga yang bisa diterima menjadi staf RS benar-benar hanya Best Doctors, Best Staffs. Di antara para dokter ada juga yang non muslim.

Pendidikan Kedokteran juga pendidikan terbaik. Seleksi menjadi mahasiswa Kedokteran sangat ketat, benar-benar Best Students saja yang bisa diterima. Seleksi calon mahasiswa meliputi berbagai ilmu seperti studi Islam, Filsafat, Astronomi, Kimia, Seni, dsb. Seleksi sangat ketat karena dokter dianggap sebagai ‘orang bijak yang berilmu’.

Khalifah sangat memperhatikan Rumah Sakit karena  di mata Khalifah pelayanan kesehatan adalah perwujudan peradaban. Pelayanan kesehatan sama bagi semua orang, tak ada diskriminasi. Semua pelayanan gratis berlaku bagi semua orang. Bangsal pria dan wanita dipisah, pasien pria dilayani perawat pria dan pasien wanita dilayani perawat wanita. Pasokan air melimpah khususnya untuk shalat, dan juga disediakan debu untuk tayammum. Khalifah memberi gaji Dokter dan Perawat. Rumah Sakit juga menerima donasi  masyarakat dan wakaf.

Di Indonesia Rumah Sakit pertama dibangun oleh Raffles untuk merawat prajurit. Tapi masyarakat pribumi dilayani dengan gratis. Kemudian di zaman VOC, pemerintah kolonial Belanda juga membangun Rumah Sakit untuk para prajuritnya dan masyarakat pribumi juga dilayani gratis. Di Malaysia dikabarkan ada Rumah Sakit dengan pelayanan model RS Islam di masa lalu, dan disebut Rumah Sakit Mesra Shalat.

Juni 25, 2011

Bagian 15 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: Uncategorized1 Comment

BAGIAN 15

PELAYANAN KESEHATAN DAN DAKWAH

Key word dunia Kedokteran adalah sehat dan sakit. Sehat menurut Hadits adalah nikmat kedua setelah iman.

“Sesungguhnya manusia tidak diberikan sesuatu yang terbaik sesudah iman kecuali kesehatan.”   Musnad Ahmad, Juz 1, Hal. 37

Dari ibnu Abas r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda : ada dua kenikmatan yang dilupakan oleh banyak manusia yaitu: Nikmat Sehat dan Nikmat luangnya waktu. (HR al-Bukhari).

“Mintalah kepada Allah kesehatan. Sesungguhnya tidak diberikan kepada seorang hamba sesuatu yang lebih utama dari kesehatan.” HR Ahmad  Musnad Ahmad, Juz 1, Hal. 48

Dari Ibnu Abbas r.a.,berkata Rasulullah Saw: “Ada dua nikmat yang dilupakan banyak orang, yaitu kesehatan dan waktu luang (kesempatan)”. (HR al-Bukhari)

Tak seorangpun mau berkurang kesehatannya,  tak mau sakit sekalipun ringan, apalagi berat. Karena itu pelayanan kesehatan  sangat dekat  dengan kebutuhan dasar manusia.

Apa makna sakit? Dalam pengetahuan umum sakit berarti berkurang/hilangnya kenikmatan yang sangat berharga, karena itu orang sakit segera pergi berobat agar disembuhkan, dan untuk itu bersedia membayar berapapun. Pasien rela ‘berserah diri’ kepada dokter  untuk diperiksa. Dan bahkan tidak sedikit pasien melepaskan akidah demi sehat.

Begitu pentingnya masalah kesehatan, begitu dekatnya dengan kemanusiaan, begitu lekatnya dengan masalah keyakinan dan akidah. Maka pelayanan kesehatan tak terpisahkan dengan dengan dakwah. Tidaklah diragukan betapa pentingnya pelayanan kesehatan dalam dakwah sehingga menjadi salah satu mukjizat, yaitu mukjizat Nabi Isa a.s. Mukjizat adalah perangkat dakwah. Dakwah adalah upaya mengajak manusia ke jalan tauhid, dakwah adalah upaya menyelamatkan manusia dunia akhiratnya

Metode dakwah ini diikuti kaum Nasrani dengan konsisten sampai saat ini. Umat Islam adalah pewaris sejatinya misi para Nabi, maka seharusnya memanfaatkan metode ini dengan lebih baik lagi. Sejarah Islam telah menunjukkan betapa besar sumbangan para cendekiawan muslim dalam mengembangkan ilmu Kedokteran dan Rumah Sakit.

Apa makna sakit dalam nilai Islam? Sakit adalah musibah. Musibah adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Dengan musibah sakit, bila orang sakit mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka berpeluang mendapatkan keinsafan, keampunan, kerahmatan bahkan peningkatan derajat. Akan tetapi bila tidak maka tentu saja menjadi sia-sia dan mungkin kutukan Allah.

Pelayanan kesehatan adalah sarana dakwah, maka para dokter dan tenaga kesehatan lainnya adalah insan dakwah, mereka berpeluang sangat besar dan sangat efektif menemui pasien untuk melayani kesehatannya sekaligus berdakwah, man to man.

Dakwah Islam adalah dakwah dengan kasih sayang. Kalimah Basmalah adalah jiwa berdakwah, jiwa pelayanan kesehatan, dan jiwa seluruh kehidupan dan sekaligus kunci sukses.

Para petugas pelayanan kesehatan haruslah menyadari perannya dalam dakwah tersebut sebagaimana juga menyadari tujuan ilmu kedokteran yang adalah juga maqashid al syariat yaitu: memelihara ad dien, memelihara kehidupan, memelihara keturunan,  memelihara jasmani, memelihara ruhani, dan memelihara kesejahteraan. Masalah-masalah di atas sebagian besarnya sudah tercantum dalam Kode Etik Kedokteran Islam.

Lalu bagaimana gambaran masyarakat sehat yang dicita-citakan? Tiada lain adalah masyarakat sehat di masa Rasulullah Saw.

Juni 25, 2011

Bagian 14 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: UncategorizedLeave a comment

BAGIAN 14

QUALITY ASSURANCE

( PENJAMINAN MUTU )

Penjaminan mutu adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu secara konsisten dan berkelanjutan  yang bertujuan untuk mencapai visi-misi dan komitmen serta  loyalitas pihak-pihak yang berkepentingan. Penyelenggaraan penjaminan mutu berdasarkan prinsip-prinsip :

A. Prinsip berbuat yang terbaik

Prinsip berbuat yang terbaik berarti seluruh kegiatan harus diorientasikan pada hasil yang terbaik dengan proses dilakukan dengan baik pula. Bersegera atau berlomba-lomba dalam kebajikan sesuai perintah Allah akan mendapat kemenangan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

“…  Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka bersegeralah (berlomba-lombalah) berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. (QS. 5: 48)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. (QS. 22: 77)

B. Prinsip Kebenaran dan Kejujuran

Apa yang sudah dinyatakan dalam visi, misi, tujuan dan program harus dikerjakan. Allah Swt benci terhadap apa-apa yang sudah dijanjikan tapi tidak dikerjakan, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surah As-Shaff (61): 2-3 :

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

Pernyataan mutu adalah janji, bila tidak ditepati termasuk salah satu ciri orang munafik. Rasulullah Saw. bersabda, yang artinya: “Tanda orang munafik itu ada tiga yaitu bila berkata dusta, bila berjanji mengingkari dan bila dipercaya ia berkhianat” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw juga bersabda: Dari Ibnu Mas’ud ra. dari Nabi Saw beliau bersabda: “ Sesungguhnya benar/jujur itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu membawa kepada surga; seseorang itu akan selalu bertindak benar/jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang benar/jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka; seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

C. Prinsip Profesional dan Tanggung Jawab

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. 17: 36).

Penjaminan Mutu dilaksanakan bertahap meliputi: (1) Tahap Persiapan: Kesatuan komitmen, penetapan project plan, merumuskan quality policy, quality object, quality targets, pelatihan dan briefing; (2) Tahap Dokumentasi: mengumpulkan semua proses disemua unit, mengidentifikasi dan menentukan proses terbaik (lanjutkan proses yg sudah baik, modifikasi proses lama ke arah lebih baik, tentukan proses baru yang baik), pengembangan disain proses secara terpadu; (3) Tahap implementasi: Sosialisasi dan pelatihan, pengembangan disain proses di semua unit, penerapan sistem, pemantauan penerapan, koreksi dan perbaikan; (4) Tahap Audit: Pelatihan audit internat, pelaksanaan audit internal, review manajemen thd efektivitas, tindakan koreksi; (5) Tahap Sertifikasi: Assesment pihak luar (Diknas/Depkes, BAN, ISO, dan sebagainya)

Prasyarat yang harus dipenuhi agar pelaksanaan penjaminan mutu dapat mencapai tujuannya (a) Komitmen: senantiasa menjamin dan meningkatkan mutu; (b) Perubahan paradigma: dari pengawasan kepada amanah; (c) Perubahan sikap mental: dari pemenuhan syarat kepada plan what you, work your plan; (d) Pengorganisasian yang mampu menumbuhkan kesepahaman dan sportivitas; (e) Terapkan kiat-kiat: pelatihan, susun rencana strategis, kerjasama dengan pihak-pihak kompeten.

Juni 25, 2011

Bagian 13 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: Uncategorized7 Comments

BAGIAN 13

STRATEGI PENDIDIKAN

Pendidikan adalah pembudayaan. Pendidikan adalah pembiasaan hidup dengan tata-nilai yang diyakini kebenarannya. Pendidikan di kampus Islam adalah penerapan nilai-nilai Islam dalam keseluruhan kehidupan kampus dan dilaksanakan oleh seluruh warga kampus. Lingkungan dan sarana-prasarana kampus harus menunjang tujuan pendidikan di kampus. Suasana kampus juga harus menunjang tradisi keilmuan Islam, membangun Islamic Learning Society.

Strategi pendidikan dirumuskan dengan nama  Budaya Akademik Islami (BudAI). BudAI diterapkan di UNISSULA, Dikdasmen, dan Rumah Sakit Islam Sultan Agung, isinya semua sama hanya penguatannya di masing-masing Pelaksana Kegiatan ini disesuaikan.  Dengan alasan itu di masing-masing Pelaksana Kegiatan diberi njama berbeda yaitu Budaya Akademik Islami (BudAI) untuk UNISSULA, Budaya Sekolah Islami (BuSI) untuk Dikdasmen, dan Budaya Rumah Sakit Islami (BuRSI) untuk Rumah Sakit Islam Sultan Agung.

BudAI/BuSI/BuRSI meliputi butir-butir sebagai berikut:

A. Membangun Islamic Learning Society

Islam adalah din yang  sangat menjunjung tinggi ilmu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan.  Pada bagian sembilan tentang ilmu dalam Al-Qur’an, telah dikutip ayat-ayat yang menjelaskan tentang kedudukan ilmu dan orang-orang berilmu dalam Islam. Demikian juga di dalam hadis-hadisnya Rasulullah sangat menjunjung tinggi kedudukan ilmu.

Barangsiapa melalui satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memasukkannya ke salah satu jalan di antara jalan-jalan surga, dan sesungguhnya malaikat benar-benar merendahkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang alim benar-benar akan dimintakan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang yang ada. Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka hendaklah dia mengambil bagian yang banyak.” (Hr. Abu Daud).

Demikian juga perkataan para sahabat, seperti yang diungkapkan oleh Mu’az bin Jabal:

“Tuntutlah ilmu, sebab menuntutnya untuk mencari keridhaan Allah adalah ibadah, mengetahuinya adalah khasyah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah dan mendiskusikannya adalah tasbih. Dengan ilmu, Allah diketahui dan disembah, dan dengan ilmu pula Allah diagungkan dan ditauhidkan. Allah mengangkat (kedudukan) suatu kaum dengan ilmu, dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan Imam bagi manusia, manusia mendapat petunjuk melalui perantaraan mereka dan akan merujuk kepada pendapat mereka.

Mengingat pentingnya kedudukan ilmu dalam Islam, maka mewujudkan lahirnya para ilmuwan/ulama adalah  tugas utama pendidikan dan puncaknya pada Universitas Islam.  Universitas Islam harus mampu melahirkan para ulama/ilmuwan yang ilmunya menjadi solusi bagi masalah-masalah bangsa dan dunia. Sejarah membuktikan, pada masa keemasan peradaban Islam, yang juga dikenal sebagai abad ilmu pengetahuan, Universitas Islam telah mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang menjadi rujukan seluruh dunia.

Diantaranya, Ja’far Muhammad ibn Mūsā ibn Shākir, dan al-Khazini, adalah ilmuwan muslim penemu teori gravitasi pertama, jauh mendahului Newton. Ibnu Haytam adalah seorang ahli polymath, ia juga ilmuwan pertama yang menggagas metode induktif, jauh mendahului Francis Bacon. Ia juga sebagai fisikawan terbesar sepanjang masa. Ibnu al-Nafis adalah ilmuwan ahli kedokteran yang berhasil  menulis The Comprehensive Book on Medicine, terdiri atas 80 jilid, menjadi sebuah Encyclopaedia kedokteran terbesar sepanjang sejarah. Masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan kelas dunia hasil didikan universitas-universitas Islam masa lalu, yang tidak bisa disebutkan satu-persatu di sini.

Apa kuncinya shingga mereka mampu menjadi seperti itu? Kuncinya tidak lain karena mereka mendapatkan didikan yang komprehensif. Mereka didik dengan model didikan Rasulullah. Model pendidikan  Rasulullah tidak hanya mampu mengubah hal-hal yang bersifat lahiriah, tapi juga dapat mengubah jiwa manusia hingga menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Lahirlah Masyarakat para sahabat (salafussoleh) yang berhasil menerapkan konsep kehambaan (ubuddiyah) terhadap Allah dalam hati dan dalam kehidupan lahir mereka. Hatinya selalu berzikir pada Allah, hatinya gemetar bila disebut nama Allah, tersungkur sujud di dalam mengingat Allah.

Tujuan hidup mereka semata-mata untuk mencari keridhaan Allah dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi, khidmat pada Allah dengan cara shalat yang khusyuk, membaca Qur’an, zikrullah, puasa, berjuang dan berjihad. Khidmat kepada sesama manusia dilakukan dengan cara menegakkan berbagai bidang dalam sistem kehidupan. Karena bertaqwa, maka mereka sangat dibantu Allah dalam berbagai aspek Kehidupan.

Ke depan, pendidikan Islam harus mampu meraih kembali kejayaan yang telah diraih oleh pendidikan Islam terdahulu. Untuk mewujudkannya, perlu dibangun sebuah masyarakat pendidikan dengan atmosfir ibadah dan atmosfir akademik yang kondusif, yaitu dengan membangun Islamic Learning Society.  Islamic Learning Society adalah masyarakat kampus yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, dan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup segenap civitas akademika, menjadi sumber inspirasi, motivasi, sekaligus menjadi filter dalam kegiatan ilmiah dan budaya. Kegiatan belajar mewarnai suasana kampus. Interaksi antar dosen dan mahasiswa, antara dosen dan dosen, antara mahasiswa dan mahasiswa, senantiasa mencerminkan intraksi pembelajaran.

Islamic Learning Society merupakan hasil dari mantapnya pelaksanaan Budaya Akademik Islami, sehingga tumbuhlah masyarakat akademik Islami dengan ciri-ciri sbb:

  1. Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi ruh seluruh kehidupan kampus, dan ruh semua ilmu. Pusat pembelajaran Al-Qur’an (Al-Qur’an Learning Center) menjadi pusat pembelajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan pusat rujukan masalah keilmuan, kemasyarakatan, dst.
  2. Terbentuknya motivasi kuat para guru/dosen dan siswa/mahasiswa untuk selalu meningkatkan iman-taqwa dan ilmu setinggi-tingginya sebagai manifestasi pengamalan iqra.
  3. Terbentuknya suasana  beribadah dan berilmu sepanjang waktu, siang maupun malam, ditunjang lingkungan yang bersih sebagai manifestasi jiwa yang selalu menjaga thaharah.
  4. Tertibnya setiap warga kampus dalam shalat fardhu berjama’ah di Masjid.
  5. Masjid kampus yang selalu makmur siang dan malam karena banyaknya orang shalat fardhu maupun shalat sunnah, tadarrus Al-Qur’an, pengajian, halaqah, dan kegiatan lainnya.
  6. Banyaknya halaqah berdiskusi agama, ilmu, kemasyarakatan, perjuangan umat Islam, dsb di berbagai sudut kampus.
  7. Adab pergaulan Islami sangat dihormati, tertibnya berbusana Islami, tertibnya berkendaraan, saling salam, senyum dan sapa bila berjumpa.
  8. Aktifitas akademik berjalan baik dan berkualitas.
  9. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris menjadi bahasa keseharian di samping Bahasa Indonesia.
  10. ICT dan Cyber Phylosophy sudah membudaya.
  11. Pelatihan-pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan  dan kerganisasian menjadi bagian kurikulum yang sangat dipentingkan mengingat fungsi manusia sebagai khalifatullah fi al ardh.
  12. Kampus sibuk dengan berbagai  kegiatan pendidikan jasmani, pelatihan fisik dan ketrampilan seperti bela diri, bela negara, dsb, yang menjadi bagian penting dalam pendidikan extra kurikuler, agar sebagai calon pemimpin tangguh menghadapi berbagai situasi dan tantangan.
  13. Mahasiswa dari berbagai bangsa di dunia membaur dengan mahasiswa Indonesia, dan banyaknya tamu ulama dan cendekiawan sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
  14. Para guru/dosen adalah figur-figur orang salih dalam ketaqwaannya, salih dalam keilmuannya, dan salih dalam jama’ahnya  menjadi uswah bagi siswa/mahasiswa dan masyarakat.
  15. Para guru/dosen  memberikan komitmen penuh kepada siswa/mahasiswa dalam membimbing agama dan ilmu.
  16. Membudayanya semangat  membaca, yang berlanjut menjadi budaya menulis dan meneliti. Ciri ini merepresentasikan semangat basthatan fil ’ilmi.
  17. Universitas menjadi tempat pemantapan Islamic Worldview bagi dosen dan para calon alumninya.Universitas menentukan target-target pencapaian keilmuan tertinggi dengan standar kesetaraan universal kepada para dosen.
  18. Selanjutnya para dosen terus difasilitasi agar  mengembangkan ketaqwaan dan keilmuannya untuk mencapai kefahaman dan hikmah, sehingga menghasilkan ilmu-ilmu yang menyelamatkan dunia, menjadi rahmatan lil’alamin.
  19. Universitas adalah tempat lahirnya generasi khaira ummah, generasi orang-orang salih yang insyaallah akan memberi kontribusi besar dalam membangun peradaban Islam di seluruh dunia.

Dengan demikian, pendidikan model pesantren/boarding school menjadi pilihan terbaik. Dengan model ini terselenggara pendidikan integral, pendidikan jasmani, rohani, kognitif, afektif, maupun psikomotorik dapat dilakukan dengan baik. Dengan keterpaduan (integration) ini diharapkan terbentuknya jiwa tauhid yang kuat.

B. Gerakan shalat berjama’ah

Ummah ialah suatu masyarakat yang terdiri atas orang-orang yang mempunyai aqidah tauhid, tujuannya sama, mereka menghimpun diri (berjamaah) secara harmonis dengan maksud untuk bergerak maju ke arah tujuan bersama (Ali Syariati, 1982: 159, Quraish Shihab).*)

Sosialitas manusia atau hubungan antar manusia memiliki dimensi yang sangat luas. Manusia menjadi manusia hanya  kalau ia bergaul dan bekerjasama dengan manusia lain. Manusia tak mungkin hidup sendirian. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. Manusia tak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya, kebersamaannya dengan yang lain. Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak dapat diingkari, bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar, melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak kelahirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hidup bersama (berjama’ah) merupakan fitrah manusia. .

Keberadaan masyarakat merupakan sesuatu yang objektif. Al-Qur’an mengemukakan gagasan sejarah bersama, tujuan bersama, catatan-catatan perbuatan, kesadaran, pengertian, perasaan dan perilaku bersama bagi masyarakat (ummah). Al-Qur’an menjelaskan suatu kehidupan tertentu yang merupakan keberadaan bersama dan masyarakat. Kehidupan bersama bukan sekedar merupakan kiasan atau sekedar simbol, melainkan suatu fakta, demikian pula kematian bersama juga merupakan sebuah fakta.

Di dalam  Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menegaskan. Firman-Nya:

Dan setiap masyarakat mempunyai ketentuan, maka apabila telah datang ketentuannya, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun, dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS.  Al-A’raf / 7:34).  Ayat ini merujuk pada kehidupan dan keberadaan masyarakat (ummah) bukan pada kehidupan individu.

Setiap masyarakat (ummah) akan diseru ke catatan amalnya.*).

Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (QS.45:28).

Dari sini diketahui bahwa bukan hanya individu yang ditentukan oleh catatan tertentu perbuatannya sendiri, tetapi masyarakat juga ditentukan oleh catatan-catatan perbuatan sendiri, sebab ia juga merupakan entitas yang sadar, bertanggung jawab, ia bebas berkehendak dan bertindak (Shadr, 1993:99).*)

Al-Qur’an berkali-kali memberikan contoh  betapa perbuatan satu individu dinisbahkan pada kelompok secara keseluruhan, atau dosa suatu generasi dikaitkan dengan generasi-generasi berikutnya. Hal ini karena individu mempunyai pemikiran dan kehendak bersama yang sama, mereka mempunyai jiwa kemasyarakatan yang sama. Misalnya, dalam kisah tentang Tsamud, perbuatan membunuh unta Nabi Shaleh, yang merupakan perbuatan individu, dikaitkan dengan bangsa secara keseluruhan; fa’aqaruha (mereka telah membunuh unta betina itu). Keseluruhan bangsa itu dianggap bertanggung jawab atas kejahatan tersebut. Akibatnya mereka semua dipandang layak dihukum karena melakukan kejahatan itu:

”Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka dengan tanah”. (QS.91:14).

Allah menjatuhkan hukuman-Nya, secara bersama, atas orang-orang Tsamud, karena keseluruhan bangsa itu bersikap sama dan mengiyakan tindakan  satu individu, dan ketika keputusannya dilaksanakan, sesungguhnya hal itu adalah keputusan keseluruhan bangsa itu.

Dari fitrah manusia tersebut di atas, untuk meraih sukses, manusia membutuhkan kerja sama, silaturrahim atau jama’ah. Tidak ada sukses sendirian, yang ada adalah sukses jama’ah. Firman-Nya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 07: 96)*)

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. 61 : 4)*)

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.*)

Shalat berjama’ah  adalah sarana membangun jamaah (masyarakat). Salat berjamaah adalah representasi jamaah sesungguhnya dalam menghimpun diri secara harmonis dengan maksud untuk bergerak maju ke arah tujuan bersama. Karena fitrah manusia adalah berjama’ah, dan amat pentingnya untuk mencapai tujuan bersama maka Allah mewajibkan shalat berjama’ah.

C. Gerakan berbusana Islami

Apakah ide dasar tentang pakaian?  Yang pertama, Ar-Raghib  Al-Isfahani  — seorang  pakar   bahasa   Al-Quran– menyatakan bahwa pakaian dinamai tsiyab atau tsaub, karena ide dasar adanya bahan-bahan pakaian  adalah  agar  dipakai.*)  Jika bahan-bahan   tersebut   setelah   dipintal  kemudian  menjadi pakaian, maka pada hakikatnya ia telah kembali pada ide  dasar keberadaannya.

Ide   dasar   kedua adalah tertutupnya aurat.

Al-Quran  surat  Al-’Araf (7): 20-22 menjelaskan peristiwa ketika Adam dan Hawa berada di surga:

“Setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan pada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata, “Tuhan kamu  melarang kamu mendekati pohon ini, supaya kamu berdua  tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang  yang kekal (di surga).”

“ …setelah mereka merasakan (buah) pohon (terlarang) itu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan  mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga…” (QS. 7: 22)

Terlihat jelas  bahwa  ide  dasar  yang  terdapat  dalam  diri manusia adalah tertutupnya aurat, namun karena godaan setan, aurat manusia terbuka.

Al-Quran juga mengingatkan:

Wahai putra-putra Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia (telah menipu orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua (QS. 7: 27).

Ide dasar ke tiga berfungsi  menangkal  sengatan  panas, dingin,  dan  bahaya  dalam  peperangan:

Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (QS. 16: 81)

Ide dasar ke empat pakaian sebagai penyiksa berat di akhirat. Firman Allah: (QS 14: 49-51)

Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.

Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka,

agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.

Dari  ayat-ayat  yang  diuraikan di atas para ulama menyimpulkan  bahwa  pada hakikatnya   menutup   aurat   adalah   fitrah  manusia yang diaktualkan pada saat ia memiliki kesadaran. Kerena menutup aurat adalah fitrah manusia, maka manusia primitif pun selalu menutupi  apa  yang dinilainya sebagai aurat.

Karena menutup aurat adalah fitrah manusia, maka untuk menjaganya dari godaan setan, Allah mewajibkan bagi perempuan untuk memakai jilbab, dengan ketentuan-ketentuan yang dijelaskan dalam ayat-ayat lain.

D. Gerakan thaharah

Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan. Ditandaskan di dalam Al Quran, betapa penting kedudukan orang-orang yang mensucikan diri di mata Allah sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah 222:

”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”

Sementara firman Allah lainnya yang berkenaan kedudukan hamba yang bersih di mata Allah, terdapat dalam surat Attaubah 108 yang artinya:

”Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”

Bahkan menjaga kesucian dan kebersihan termasuk bagian dari ibadah, sebagai bentuk qurbah, bagian dari taabbudi. Jadi, merupakan kewajiban yang berkedudukan sebagai kunci dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Dalil akan hal itu bisa disimak dari sabda Rasul Saw., “Kunci shalat adalah suci“*). Lebih ditegaskan lagi dalam hadits lain yang berbunyi: ”Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang tidak bersih”.*)

Pada bagian lain Islam meletakkan kebersihan/kesucian sebagai salah satu cabang dari keimanan sebagaimana hadits Rasulullah, “bersuci itu termasuk bagian dari iman“.*)

Dengan demikian menjadi jelas bagi kaum muslim bahwa melaksanakan thaharah adalah perbuatan iman dan sebagai kunci ibadah yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam rangka mendekatkan diri beribadah kepada Allah Swt.

Tidak berhenti pada ranah pribadi-pribadi kaum muslim secara individual, Islam amat memperhatikan perkara kesucian/kebersihan pada ranah lingkungan, dimana Nabi Muhammad bersabda sebagai berikut: ”Bersihkan lingkungan rumah kalian” *)

Dari sabda itu, setidaknya diperoleh gambaran bahwa sejak 14 abad lalu Islam sudah mendengungkan pesan kepedulian terhadap lingkungan dengan mendorong keadaan lingkungan yang sejahtera penuh kenyamanan sebagai tempat tinggal (rumah) bagi penghuninya dengan ”thaharah lingkungan”. Pesan itu sekaligus meneguhkan salah satu peran penting yang harus dilaksanakan umat Islam sebagai pengemban misi ke-khalifah-an, bersangkut-paut dengan persoalan bagaimana keharusan menjaga lingkungan. Maka thaharah menjadi salah satu urusan penting yang melekat dalam diri umat Islam di setiap ruang dan sepanjang waktu tentunya.

Betapa penting nilai-nilai thaharah dalam Islam, oleh karena itu kaum muslim setidaknya dituntut untuk: pertama, memahami konsep-konsep tentang thaharah dengan baik & benar, kedua harus menjalankannya dalam 24 jam (baca: keseharian) kehidupan karena thaharah adalah kunci iman & ibadah, ketiga menjadikannya sebagai gerakan kolektif secara berjamaah di tengah masyarakat & lingkungannya karena kebersihan adalah salah satu indikator akhlak individu maupun jamaah/umat yang kentara atau tampak sebagai refleksi ke-Islaman mereka.

Karena itu umat harus dididik dan digerakkan untuk mempraktikkan ajaran kebersihan dalam kehidupan secara sempurna. Sebab, sesungguhnya Islam dibina atas dasar kebersihan, sabda-sabda Nabi Muhammad saw berikut menjelaskan hal itu: pertama, “Islam didirikan di atas kebersihan”*), kedua, “suci itu sebagian iman”*), ketiga, “kebersihan itu sebagian iman”*). Terlebih ketika kita berbicara dunia pendidikan Islam, dimana visi dan cara pandang Islam diletakkan sebagai landasan utamanya. Pemahaman dan implementasi thaharah dalam proses pendidikan semestinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari paradigma pendidikan Islam itu sendiri.

Dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad Saw menyampaikan sabda: “indahkanlah pakaian-pakaianmu dan tempat tinggalmu supaya kamu ibarat tahi lalat yang tumbuh di muka bumi yang indah jelita, menambahkan keindahan dan kecantikannya, supaya kamu menjadi pemanis yang menambah manisnya masyarakat dunia”*). Hadits Rasulullah sebagaimana telah diuraikan, bila ditelaah lebih jauh bisa dimaknai bahwa: Islam kita yakini sebagai agama yang niscaya unggul, oleh karena itu ajarannya menghendaki (baca: membawa) umat Islam (pasti) memiliki keistimewaan. Salah satu diantara keistimewaan itu adalah “keadaan umat Islam yang terjamin kesucian dan kebersihannya”. Dengan keadaan tersebut umat Islam niscaya mampu memperindah dan mempercantik kehidupan.

Konsekuensinya, menjadi keharusan bagi setiap muslim agar mengusahakan kepribadian suci dan bersih, lalu secara bersama-sama mengusahakan terbentuknya kepribadian kolektif jamaah yang suci dan bersih hingga pada akhirnya tercipta umat yang menghiasi masyarakat dan dunia dengan indahnya kehidupan yang suci & bersih, melalui penguasaan disiplin ajaran dan pengamalan best practise ber-thaharah dalam diri umat Islam secara istiqomah. Usaha-usaha yang relevan maupun proses-proses yang efektif bisa dikembangkan melalui dunia pendidikan Islam baik secara formal di bangku sekolah/kampus maupun secara informal yakni di lingkungan keluarga.

E. Gerakan keteladanan

1. Urgensi Keteladanan

Naluri manusia adalah taqlid atau meniru, khususnya pada orang yang dicintai dan disayangi. Apa yang dilakukan oleh orang yang  dicintai dan disayangi, tanpa berpikir lebih panjang segera saja diikuti dan dicontoh. Dalam keadaan demikian, taqlid atau meniru ini ibarat uang logam, memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, atau ibarat pisau, taqlid memiliki dua mata pisau yang sama-sama tajam. Pada satu sisi, taqlid pada sesuatu yang baik sangat bermanfaat, pada sisi lain, taqlid pada sesuatu yang jelek (buruk) merupakan sesuatu yang merugikan. Untuk itu, setiap orang yang dicintai dan disayangi harus senantiasa berusaha untuk berbuat dan bertingkah laku yang baik, agar apa yang ditiru dari dirinya adalah sesuatu yang baik. Pada sisi lain, orang tersebut juga harus menjaga dan memelihara diri dari perbuatan yang tidak baik, sehingga orang-orang yang mencintai dan menyayanginya tidak sempat untuk meniru perbuatan dan tingkah laku yang tidak baik.

Hal ini perlu mendapatkan perhatian, karena proses peniruan atau taqlid ini bisa terjadi karena sengaja atau pun tidak sengaja. Meniru secara sengaja dikenal dengan istilah modelling, yaitu menjadikan seseorang, khususnya orang yang dicintai dan disayangi sebagai model. Dari padanya segala sesuatu ditiru atau dicontoh, tidak perduli apakah itu baik atau buruk. Sementara proses peniruan pun bisa terjadi tanpa sengaja yang dikenal dengan istilah osmosis atau contagion, yaitu terjadi proses perembesan nilai, sikap dan tingkah laku, karena volume dan intensitas atau seringnya terjadi interaksi dan komunikasi antara orang yang meniru dan ditiru.

Berkaitan dengan uraian tersebut di atas, taqlid atau peniruan merupakan cara atau metode pendidikan yang efektif untuk menanamkan suatu nilai, sikap dan tingkah laku yang baik, yang dikenal dengan metode Keteladanan. Sebagai sebuah metode, Keteladanan, khususnya dari orang yang dicintai dan disayangi, dalam hal ini orang tua atau pendidik harus lebih banyak atau sering ditampilkan dalam setiap event atau gejala atau fenomena atau peristiwa pendidikan. Lebih-lebih pada saat ini, ketika keteladanan merupakan sesuatu yang langka, dalam arti sesuatu yang sulit ditemukan, lebih-lebih pada sosok pemimpin, orang tua, bahkan dari pada pendidik.

Di antara metode keteladanan yang dapat digunakan dalam proses pendidikan, atau proses penanaman dan perubahan nilai, sikap dan tingkah laku, atau proses transformasi budaya, di samping dari pendidik langsung, adalah dengan menampilkan sosok teladan yang lain, yang telah diakui dan diyakini pantas dan layak untuk menjadi teladan, seperti tokoh-tokoh terkenal di semua aspek/bidang kehidupan. Dalam hal ini, tidak ada sosok yang pantas untuk menjadi teladan, kecuali nabi besar Muhammad Saw. Lebih-lebih dalam pelaksanaan Budaya Akademik Islami di kampus yang kita cintai, Universitas Islam Sultan Agung.

Upaya untuk dapat menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan ini harus diawali dengan berusaha mencintai dan menyayangi beliau, yaitu dengan mengenal lebih baik sirah kehidupan beliau. Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Apalagi dalam konteks upaya kita untuk menjalankan Budaya Akademik Islami, mutlak diperlukan pemahaman yang baik terhadap Islam. Untuk ini, mengenal lebih baik sirah nabi Muhammad Saw. sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, karena pada diri beliaulah gambaran Islam yang paripurna, Islam yang sempurna, Islam yang utuh, meliputi semua unsurnya, Aqidah, Ibadah dan Akhlak, Iman, Islam dan Ihsan.

2. Landasan Filosofis: Muhammad Saw. Sebagai Uswah Hasanah

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. 33: 21)

Dari firman Allah tersebut di atas, dapat dipahami bahwa:

Pertama, tidak diragukan dan tidak ada keraguan untuk menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan, karena Allah Swt. juga berfirman:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. 68: 4).

Di samping itu, Allah Swt. pun telah menempatkan Rasulullah Saw. pada tempat yang terpuji atau maqaamam mahmudah. (QS. 17: 79)

Kedua, Allah Swt. memberikan syarat bagi siapa saja yang akan menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan, yaitu: 1) Orang yang dalam melakukan amal ibadah tidak ada niat atau tujuan yang diharapkan kecuali hanya keridlaan atau rahmat dari Allah Swt. Tidak ada yang diharapkan kecuali kasih sayang dari Allah Swt. 2) Orang yang senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir, hari kemudian, hari perhitungan, hari pembalasan, atau al-isti’daatu li yaumi al-raakhil, sebagai salah satu ciri atau tanda ketakwaan kepada Allah Swt. 3) Orang yang senantiasa mengingat atau dzikir kepada Allah Swt.

Dengan demikian, secara filosofis, upaya untuk menjadikan diri Rasulullah Saw. sebagai teladan bagi hidup dan kehidupan seseorang tidak cukup hanya mengakui kelebihan dan keutamaan Rasulullah Saw. secara historis-normatif saja, tetapi dituntut untuk meningkatkan keimanan dirinya pada tingkatan Muhlishin dan pada puncaknya menjadi Muttaqien. Tidak serta merta, setelah seseorang membaca dan mempelajari kelebihan dan keutamaan Rasulullah Saw. melalui sirahnya sebagaimana diuraikan dalam sejarah (historis) dan firman-firman Allah Swt. (normatif) dapat mengambil teladan dari Rasulullah Saw.

Sebaliknya, bagi orang beriman tetapi tidak mau menjadikan diri Rasulullah Saw. sebagai teladan, maka dia akan memperoleh kerugian, tidak hanya ketika hidup di dunia, tetapi juga kelak di kehidupan akhirat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:

“Barang siapa yang taat kepadaku dia akan masuk surga dan yang maksiat kepadaku (tidak menteladaniku) dialah orang yang tidak mau masuk surge”. (HR Bukhari)

Sudah sepantasnya, setiap muslim memiliki cita-cita untuk meraih kebahagiaan hidup tidak hanya di dunia, tetapi juga di akherat, serta terbebas dari siksa api neraka, sebagaimana do’a yang senantiasa dibaca, seperti yang diajarkan oleh Allah Swt.:

Dan di antara mereka ada yang berdo’a: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. (QS. 2: 201)


3. Masing-masing Diri Adalah Teladan

Rasulullah Saw bersabda: “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai tanggungjawab kepemimpinannya” (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Umar)

Allah Swt. Berfirman dalam QS. Shaff ayat 3:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

Dari kedua dalil tersebut di atas dapat dipahami bahwa setiap diri adalah pemimpin dan setiap diri adalah teladan artinya seorang pemimpin adalah teladan. Salah satu tugas utama pemimpin adalah tampil di depan sebagai teladan atau motivator, artinya apa saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin dapat menjadi motif atau dorongan bagi orang lain yang dipimpinnya untuk melakukan hal yang sama, karena itu setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin adalah motivator.

Salah satu aspek utama gerakan keteladan adalah kesadaran setiap individu khususnya pemimpin, bahwa dirinya adalah motivator yang tugasnya mengajak orang lain untuk  ber’amar ma’ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah. Artinya setiap pemimpin adalah motivator dan setiap motivator adalah khaira ummah.

Dengan demikian cita-cita membangun generasi khaira ummah dapat tercapai apabila setiap pendidik termasuk pemimpinnya telah menjadi khaira ummah, artinya keteladanan adalah metode pendidikan yang sangat efektif.


F. Gerakan keramahan Islami

Ucapan Bismillahirrahmanirrahim adalah niat dan ruh seluruh perbuatan orang Islam. Tanpa niatan tersebut maka amal perbuatannya itu tidak ada nilainya di sisi Allah.

Setiap pekerjaan penting yang tidak dibuka dengan bismillahirrahmanirrahim akan terpotong”. (Abu Daud dan Ibnu Majah).

Dengan menyebut namanya di awal, maka pekerjaan tersebut akan berbobot dan bernilai ibadah. Ibadah haruslah didasari ilmu. Maka setelah mengucapkan basmalah berarti ada kewajiban melaksanakan perbuatannya dengan ilmu. Tanpa kata ini kerja seseorang akan kehilangan makna. Dan ketika telah memulai kerja dengan langkah awal yang benar maka akan mengawali pula sukses berikutnya.

Di dalam basmalah tercantum tiga nama, yaitu Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Menurut Ibnu Al-Qayyim, tiga nama ini adalah rangkuman dari semua makna nama-nama Allah. Intisari dari tiga rangkaian nama itu mengajarkan kita untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam semua aktivitas dengan semangat nama-Nya yang Rahman dan Rahim.

Basmalah merupakan pernyataan niat bahwa perbuatan yang akan dilakukan adalah karena Allah, karena melaksanakan perintah Allah, dengan nama Allah, atau atas nama Allah. Juga berarti mengharap pertolongan Allah, berharap dan bergantung hanya kepada Allah. Ucapan ini menunjukkan sikap bertauhid. Allah, Ar-Rahman, Ar-Rahim adalah sifat Allah yang paling penting. Bila mengambil makna yang sederhana yaitu ‘kasih sayang’ atau Allah adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka itu adalah keperluan dasar setiap mahluk-Nya untuk mendapatkan kasih sayang-Nya.  Dan itu pula kebutuhan dasar setiap manusia.

Semenjak diciptakan manusia adalah ‘hasil’ kasih sayang ibu-bapaknya. Kemudian Allah menyimpannya di tempat yang disebut ‘rahim’, ibu. Nama tersebut menggambarkan kasih sayang total seorang ibu kepada anaknya, suatu tempat yang sangat sempurna untuk mengantar pertumbuhan awal  selama anak dalam kandungan ibu. Anak lahir masih tetap bergantung kepada kasih sayang ibu, kemudian bapaknya, kemudian saudara-saudaranya, kemudian lingkungannya. Masuk sekolah mengharap kasih sayang guru-gurunya. Begitulah seterusnya terjun kedalam masyarakat, manusia saling memerlukan kasih sayang. Anak buah ingin disayang atasannya, pemimpin ingin disayang rakyatnya, rakyat ingin disayang pempimpinnya. Laki-laki ingin disayang perempuan, perempuan ingin disayang laki-laki. Begitu pula kasih sayang merupakan kebutuhan dasar pasien.

Kasih sayang adalah fitrah manusia. Kehilangan kasih sayang manusia akan menderita. Anak yang tidak mendapat kasih sayang di rumahnya maka akan mencarinya di luar rumah. Maka jadilah ia anak nakal. Demikianlah bila pemimpin tidak dicintai lagi oleh rakyatnya atau rakyat tidak lagi dicintai pemimpinnya maka Negara akan rusak.

Kasih sayang melahirkan keramahan sejati. Orang senang mendapat keramahan, sebaliknya ketidak ramahan akan berakibat hubungan yang buruk.

Rasulullah Muhammad Saw adalah uswah pemimpin sejati yang penuh kasih sayang dan cinta kepada umatnya dan seluruh manusia.

Firman-Nya:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS 9: 128)

Sesaat sebelum wafat beliau masih memikirkan nasib umatnya dengan ucapannya ‘ummati, ummati’. Beliau adalah pemimpin yang paling sukses, sekalipun misi yang dibawanya bertolak belakang dengan keyakinan masyarakat di negerinya bahkan di seluruh dunia, bahkan dimusuhi, beliau sukses karena kasih sayang dan keramahannya. Semua masalah yang dihadapinya diselesaikan dengan tuntas karena kasih sayang dan keramahannya.

Kasih sayang dan keramahan adalah syarat sukses membangun rumah tangga, membangun jama’ah, membangun masyarakat dan negara. Negara akan kuat dalam pangkuan masyarakat marhamah. Kasih sayang dan keramahan adalah juga syarat sukses membangun dunia pendidikan dan dakwah. Kampus Islami adalah kampus kasih sayang dan keramahan.

G. Gerakan kualitas hidup

Hidup berkualitas adalah hidupnya para shalihin, uswahnya adalah Rasulullah Muhammad Saw., landasannya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kualitas, sebagaimana telah dibahas di depan adalah karena kesalihannya. Kualitas taqwa berarti kesalihan dalam ketaqwaan, kualitas ilmu berarti kesalihan dalam ilmu-ilmu rasional empirik, dan kualitas jama’ah sering disebut kesalihan sosial, yaitu khairu an naas anfa’uhum li an naas*), paling bermanfaat bagi jama’ahnya/manusia.

WHO memberi definisi sehat adalah meliputi sehat jasmani, ruhani, dan sosial. Kualitas jasmani adalah jasmani yang sanggup memikul beban kualitas ruhani dan kualitas sosial dengan sebaik-baiknya. Jasmani manusia adalah bagian dari alam semesta yang tugasnya adalah melayani manusia.

Kehidupan berkualitas berarti menjalani hidup keseharian dengan kesalihan. Bagaimanakah hidup berkualitas? Di depan telah diuraikan bahwa Allah Swt telah menciptakan kehidupan alam semesta dengan ritme waktu. Di dalamnya ada waktu-waktu dan tempat-tempat yang baik maupun yang kurang atau tidak baik untuk aktifitas manusia agar memperoleh keberkahan-Nya, atau dengan kata lain untuk sukses dunia akhiratnya. Fi ad dunya hasanah wa fi al akhirati hasanah, waqina ‘adzaaba an naar.

Dalam Al-Qur’an Surah Al Muzzammil ayat 1-8 Allah Swt memberikan petunjuk-Nya:

  1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
  2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari], kecuali sedikit (daripadanya),
  3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
  4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil.
  5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.
  6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
  7. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).
  8. Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.

Begitulah ritme keseharian yang berkualitas. Untuk menjadikan hidup berkualitas, malam kita disuruh bangun, bukannya disuruh tidur karena tidur itu biasa saja. Tidurnya sedikit saja, yaitu seperdua malam atau lebih sedikit atau kurang sedikit. Bila lail (malam) diukur mulai waktu ‘isya sampai masuk waktu subuh, maka itu berarti sekitar 9 jam. Seperduanya atau lebih sedikit atau kurang sedikit berarti sekitar 4-5 jam. Pada beberapa ayat lain Allah bahkan memuji hamba-hamba-Nya yang tidur lebih sedikit.*) Di waktu bangun malam itulah saatnya kita shalat tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Tahajjud dan membaca Al-Qur’an adalah perintah harian Allah Swt kepada kita kaum musllimin. Adapun waktu pagi sampai datangnya malam adalah saatnya bekerja keras (urusan yang panjang). Dan di seluruh waktu kita harus berdzikir dan beribadah dengan penuh ketekunan. Ibadah wajib di seluruh waktu adalah shalat fardhu 5 waktu, dan bagi laki-laki shalat berjama’ah di Masjid.

Bagaimana jasmani kita sanggup mendukung tugas berat tersebut? Jawaban pertama adalah makan yang benar dan baik atau halal dan thoyyib, dan ke dua adalah olah raga yang benar dan teratur. Makan yang benar dan baik tentu saja mengikuti uswah Rasulullah Saw. Hal tersebut sudah banyak dibahas.

Olah raga atau pendidikan jasmani ada pula indikasinya dalam Sirah Nabi Muhammad Saw. Beliau selalu berjalan dengan cepat sehingga para sahabat selalu tertinggal.*)

………. Baginda berjalan dengan langkah yang cergas dan bukan langkah pendek. Apabila baginda berjalan nampak seolah-oleh baginda menuruni bukit. ………..

Tentu saja jarak tempuh cukup jauhnya untuk mendatangi dari satu ke tempat lain dalam dakwahnya.

Karena tubuh manusia mengikut sunnatullah sebagaimana seluruh alam, maka untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan tubuh, manusia harus berupaya mengikut hukum-hukum fisik tubuh manusia. Itulah kesalihan jasmani.

Ilmu pengetahuan kedokteran masa kini telah menemukan cara berolah raga yang terukur untuk mencapai kualitas kesehatan yang prima. Olah raga tersebut dikenal dengan nama aerobic. Prinsip olah raga ini adalah bagaimana menggerakkan tubuh dalam waktu tertentu dengan kecepatan tertentu secara teratur. Misalnya lari, atau jalan cepat. Jalan cepat! Itulah yang dilakukan Rasulullah Saw.  Itulah yang paling mudah, murah dan dapat dilaksanakan kapan saja, di mana saja. Akan tetapi olah raga lain seperti bersepeda, berenang, senam, dan sebagainya juga bisa. Tujuan aerobic adalah agar jantung dan paru sanggup menyediakan oksigen dan glikogen untuk membangun tenaga yang segera diperlukan dalam jumlah banyak. Bila paru dan jantung terlatih dengan teratur dan menjadi kuat, maka seluruh organ tubuh akan mendapatkan jaminan terpenuhinya keperluan energinya kapanpun dan tubuh menjadi sehat.

Kualitas hidup adalah kualitas kehidupan orang-orang salih. Mereka salih dalam ketaqwaan, salih dalam keilmuan, salih sosial/jama’ah, dan salih jasmani.

Juni 25, 2011

Bagian 12 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: UncategorizedLeave a comment

BAGIAN 12

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN

Pendidikan difahami sebagai memanusiakan manusia.*) Di dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dirumuskan tujuan pendidikan sebagai berikut: ‘… berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab’. Tetapi pada prakteknya yang berjalan adalah hanya ditekankan pada penguasaan iptek dan skill, bahkan pendidikan diharapkan menghasilkan lulusan siap kerja. Dengan kata lain ditekankan mental koeli. Pendidikan karakter hampir tak terjamah.

Kita telah sepakat bahwa pendidikan adalah ‘Bismillah Membangun Generasi Khaira Ummah’.

Dari diskusi di atas telah kita ketahui bahwa secara operasional pendidikan adalah mendidik manusia taqwa, berilmu tinggi dan berjama’ah.  Artinya  kita harus membangun paradigma baru dalam pendidikan kita. Kita mengharapkan  para lulusan pendidikan kita adalah orang-orang taqwa sehingga hidupnya berkah dan begitu pula ilmunya. Ilmunya ditingkatkan oleh Allah sehingga memperoleh kefahaman dan hikmah. Dan kehadirannya di masyarakat dengan ilmunya itu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah-masalah masyarakat membangun peradaban mulia, peradaban Islam.

Dengan paradigma baru, apa yang harus berubah ? Keislaman kita, budaya kita, keilmuan kita, dan penguatan Islamic Worldview.

Keislaman kita? Tak cukup dengan berislam, tapi harus senantiasa meningkatkan iman dan taqwa.

Budaya kita? Kita harus lebih bersungguh-sungguh menerapkan budaya Islam mengikut suri tauladan uswah kita Muhammad Rasulullah Saw., dalam diri kita, di keluarga,  di sekolah/kampus, maupun  di Rumah Sakit.

Keilmuan kita? Kita harus menghidupkan–hidupkan kembali tradisi keilmuan Islam sebagaimana di masa lalu para ulama dan cendekiawan muslim telah berhasil membangun era kejayaan Islam yang juga dikenal sebagai era ilmu pengetahuan. Paradigma baru mengharuskan mengembangkan ilmu dan teknologi dengan melaksanakan rekonstruksi ilmu atas dasar nilai-nilai Islam agar arah pengembangan ilmu ke depan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan itu diharapkan kualitas keilmuan kita segera mencapai kesetaraan universal dan siap menjadi trendsetter membangun peradaban Islam. Konsekuensinya menjadi  keharusan penguasaan dan pembudayaan berbahasa Arab dan berbahasa Inggris, dan penguasaan pembudayaan ICT dan Cyber Phylosophy.

Penguasaan Bahasa Arab adalah kefardhuan dalam pembelajaran dan pemahaman Al-Qur’an,  kefardhuan untuk penguasaan Ilmu-Ilmu Islam,  kefardhuan dalam proses rekonstruksi Ilmu, kefardhuan untuk komunikasi dunia Islam, dan kefardhuan dalam membangun peradaban Islam.

Penguasaan Bahasa Inggris adalah kefardhuan dalam komunikasi ilmu pengetahuan dan komunikasi internasional

Selanjutnya penguasaan dan pembudayaan ICT dan Cyber Phylosophy yang menjadi tulang punggung dari seluruh kegiatan pendidikan, pengembangan ilmu, pengabdian kepada masyarakat, komunikasi nasional dan internasional, manajemen, dan seterusnya.

Juni 25, 2011

Bagian 11 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: Uncategorized1 Comment

BAGIAN 11

ILMU DAN HIKMAH

A. Ilmu dan Menimba Ilmu

Definisi Ilmu menurut Prof Naquib Al Attas adalah ‘tibanya makna sesuatu pada diri, dan berhasilnya diri menyerapnya’.*) Jadi untuk mendapatkan ilmu harus ada upaya. Dalam melakukan upaya maka setiap orang mempunyai motivasi. Itu sebabnya dari awal ilmu memang tidak bebas nilai.  Dalam ajaran Islam niat sangat penting. Niat akan menentukan upaya dan hasil.

Sesungguhnya nilai amal bergantung niatnya.*)

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"

Begitu juga niat menimba ilmu, bagi kita umat Islam haruslah sesuai dengan tuntunannya agar bernilai ibadah. Menimba ilmu adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah sebagaimana bunyi Surah Al ‘Alaq sebagai berikut: *)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. 96: 1-5).

Allah Swt. yang memerintahkan agar manusia menimba ilmu. Diperjelas dalam beberapa Hadits.

Dalam Riwayat Ibnu Majah, dari Anas bin malik r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda: Menimba ilmu itu wajib bagi setiap orang muslim.*)

Perintah itu berlaku bagi semua manusia sepanjang hayat dan berlaku sepanjang masa. Artinya manusia adalah yang meminta dan yang menerima ilmu.  Allah Swt. Yang memberi ilmu, jadi Allah tak pernah berhenti memberi ilmu. Allah Yang Maha Berilmu adalah sejatinya Pemberi ilmu. Allah al ’alim. Meminta adalah doa dan upaya. Doa adalah motivasi, doa adalah ruhul ‘ibadah. *)

Jadi berdoa harus benar, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadits, dan harus diikuti amal yang benar pula.

Sebagaimana dibahas di depan, Allah memberi ilmu kepada manusia dengan dua cara, yaitu:

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam.” (QS. 96: 4)

“Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96: 5)

Maka seberapa jauh hasil menimba ilmu tadi bergantung kesungguhan niat dan upaya, serta  macam upaya apa yang dilakukan, apakah hanya dengan perantaraan qalam saja (empirik), ataukah dengan keduanya.

B. Tingkatan Ilmu

Data dan informasi yang tersebar belumlah bisa disebut sebagai ilmu, sekadar menjadi pengetahuan. Dewasa ini informasi yang tersebar begitu masif, terjadi ledakan informasi melalui berbagai media khususnya melalui media internet. Informasi yang amat sangat banyaknya, mudah diakses, sangat beragam, berbeda dan bahkan bertentangan satu sama lain, bisa membingungkan, bahkan bisa jadi kita menjadi mangsa ledakan informasi yang menyesatkan.

Dengan metode keilmuan, informasi yang tersebar tadi dapat dikemas dan dianalisis secara sistematik sehingga terbangun pengetahuan yang sistematik, menjadi pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan. Dalam penyusunan dan membangun ilmu pengetahuan tadi tentu tak mungkin terbebas dari motivasi, kepribadian, budaya dan pandangan hidup penyusun. Itulah sebabnya ilmu tidak bebas nilai.

Selanjutnya dengan meningkatnya kualitas iman dan taqwa, maka meningkat pula kemaknaan ilmu pengetahuan bagi pemiliknya, sehingga ilmu pengetahuan meningkat menjadi kefahaman.

“Barangsiapa yang meningkat ilmunya dan tidak mendapatkan hidayah, maka tidak akan meningkat kecuali semakin jauh dari Allah”*)(Atsar)

Allah mengajari kita dengan doa ‘rabbi zidni ‘ilma warzuqni fahma’

dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. 20:114).

Muawiyah r.a. meriwayatkan katanya: Rasulullah saw. Bersabda: barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan memberikannya pemahaman terhadap agama. ( HR. Bukhori Muslim)

C. Hikmah

Hikmah adalah ilmu dalam pengertian tertinggi. Hikmah adalah ilmu dalam neraca pertimbangan nilai yang adil. Hikmah adalah suatu ilmu yang memperkenalkan kepada diri si pemilik akan batas kegunaan serta puncak maknawi suatu perkara. Hikmah adalah pemberian Allah kepada Ulul Albaab, hikmah adalah anugerah yang besar.

Firman-Nya:

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tidaklah dapat mengambil pelajaran melainkan Ulul Albaab.” (QS. 2: 269)

Siapa Ulul Albaab?

Firman Allah:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albaab”. (QS. 3: 190)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. 3: 191)

Jadi, Ulul Albaab adalah orang-orang yang faham mendalam kemaknaan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan juga faham mendalam ayat-ayat kauniah (ilmu pengetahuan). Ulul Albaab faham mendalam ilmu pengetahuan  dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai tanggungjawabnya  sehingga tidak ada sesuatupun yang sia-sia ditangannya.

Dengan faham mendalam akan Al-Qur’an dan AS-Sunnah dan faham mendalam ilmu pengetahuan, maka kemudian Allah menganugerahkan kepada Ulul Albaab hikmah. Ulul Albaab adalah penerima anugerah hikmah. Nabi adalah penerima anugerah puncak hikmah dan kenabian.

Secara skematik manusia dalam berilmu sebagai berikut:

Muslim=Semua Manusia Taqwa Ulul Albaab
Data, pengetahuan Data, pengetahuan Data, pengetahuan
Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan
Kefahaman Kefahaman
Hikmah

Pendidikan adalah membangun manusia taqwa, mengharap anugerah Allah akan hadirnya Ulul Albaab.

D. Kewajiban Menimba Ilmu

Kewajiban menimba ilmu adalah fardhu yang mendahului kefardhuan iman dan amal salih. Ilmu apa yang wajib dipelajari? Adalah ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah.

Ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang wajib dipelajari  setiap muslim agar memahami ajaran Islam dengan benar dan baik khususnya Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga dapat melaksanakan kewajibannya sebagai muslim dengan benar dan baik. Juga penguasaan akan pemahaman ajaran Islam sebelum melakukan suatu usaha. Menjadi fardhu ‘ain juga untuk terus menerus mendalami Islam guna meningkatkan iman dan taqwa.

Ilmu fardhu kifayah adalah ilmu-ilmu yang wajib dikuasai dalam rangka memenuhi keperluan duniawi masyarakat Islam. Kewajiban ini didistribusikan kepada warga jama’ah (masyarakat). Bagi yang mempelajari ilmu-ilmu fardhu kifayah ada kewajiban untuk mendalami Islamic Worldview agar mampu mengembangkan ilmu-ilmu yang dikuasainya selaras dengan nilai-nilai Islam.

Kewajiban menimba Ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah pada dasarnya bersifat dinamis mengikuti perkembangan kehidupan yang dihadapi seseorang dan kaum muslimin.

Juni 25, 2011

Bagian 10 – Risalah : Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah

by yayasan badan wakaf sultan agung — Categories: Uncategorized2 Comments

BAGIAN 10

ILMU DALAM AL’QUR’AN

A. Menimba Ilmu

Menimba ilmu adalah wajib. Adalah fardhu yang mendahului kefardhuan iman dan amal dalam melaksanakan tugasnya sebagai abdullah maupun khalitullah fi al ardh. Manusia lahir tidak tahu apa-apa, tanpa ilmu. Karena itu menimba ilmu diwajibkan agar sanggup melaksanakan tugas-tugasnya dengan benar dan baik. Melaksanakan tugas apapun haruslah dengan ilmu, beribadah maupun memahami dan meningkatkan iman juga harus dengan ilmu, membangun kehidupan materi juga harus dengan ilmu karena tanpa ilmu semua menjadi sia-sia dan bahkan kerusakan.

وفي رواية لابن ماجه عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « طلب العلم فريضة على كل مسلم »

Dalam Riwayat Ibnu Majah, dari Anas bin malik r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda: Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang muslim.

Amal salih adalah amal yang didasari ilmu. Maka menimba ilmu diwajibkan sepanjang hayat bahkan ke seluruh pelosok bumi.

Allah Swt. mewajibkan umatnya menimba ilmu di awal turunnya wahyu, menggambarkan betapa pentingnya ilmu dalam mengawali segala amal.

Firman-Nya :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Dalam Surah tersebut Allah Swt. memberitahu kita bahwa Dia memberi ilmu kepada manusia dengan dua cara, yaitu :

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.” (QS. 96: 4)

“Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96: 5)

(1) Mengajari manusia dengan perantaraan qalam. Qalam adalah fenomena alam, tulisan, informasi lisan, dan sebagainya, dan segala sesuatu yang bersifat rasional empirik yang dapat ‘dibaca’ oleh manusia. Dengan perantaraan qalam manusia sanggup mengembangkan ilmu-ilmu rasional empirik. Semua manusia sama potensinya untuk meraih ilmu dengan cara ini. Bergantung kesungguhan manusia menimba ilmu ini, maka dia akan menguasai alam. Science is power. Dengan metoda ini Yahudi unggul.

(2) Allah mengajari manusia langsung apa yang tidak diketahui. Ini adalah perlakuan istimewa oleh Allah Swt. Untuk mendapatkan ilmu langsung dari Allah ada syaratnya  yaitu taqwa, sebagaimana difirmankan Allah :

dan bertaqwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. 2: 282 )

B. Apakah taqwa, apakah iman?

Al-Qur’an menjelaskan tentang iman sebagai berikut:

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah kami telah Islam, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (QS. 49:14)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”.(QS. 49:15)

Bagi mereka yang sudah meningkat iman, Allah memberikan perlakuan istimewa sebagai berikut:

Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. 2: 257)

Tentang taqwa banyak penjelasannya, akan tetapi bagaimana orang beriman agar meningkat taqwa, ada dijelaskan dalam ayat mengenai kewajiban berpuasa Ramadhan sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS 2: 183)

Dalam Al-Qur’an bertebaran ayat tentang janji Allah berupa pertolongan istimewa bagi orang taqwa, antara lain: Dihapus Dosa, Diberi ilmu, Dilepaskan dari masalah hidup, Lepas dari bencana, Dicukupkan  Rizqi, Dipermudah urusan, Berkah dari langit dan bumi, Bantuan dan pembelaan, Kemenangan dan Kejayaan, Diwariskan bumi, dan sebagainya.

Bagi orang-orang taqwa akan ditambahkan ilmu oleh Allah langsung, sudah tentu ilmu itu baginya akan menambah kedekatannya kepada Allah, akan lebih mengenal Allah, sehingga akan bertambah takut kepada Allah, takut kalau sikap dan perbuatannya tidak diridhai Allah. Firman Allah :

“Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. 35: 28)

Bagi warga kelompok masyarakat ataupun negeri bertaqwa, Allah memberikan janji khusus sebagai berikut:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَْرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَـٰهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

‘Bilamana penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.’ (QS. 7: 96)*)

Bila kedua jalan ilmu ditempuh, maka akan ada keberkahan ilmu ditandai dengan berhasilnya ilmu itu memberi solusi masalah yang dihadapi masyarakat, menjadi pilar peradaban dan memberi kemanfaatan berdimensi jangka panjang yang jauh.

C. Kesalihan

Mari kita perhatikan beberapa Firman Allah sebagai berikut:

“manusia merugi melainkan yg beriman dan beramal salih” (QS. 103: 2-3)

“Allah mengangkat derajat orang beriman dan beramal salih” (QS. 58: 11)

Dari ayat-ayat tersebut kita ketahui bahwa keimanan dan kesalihan mempunyai makna berbeda. Jadi, orang beriman bisa tidak salih, dan orang salih bisa tidak beriman. Kata ‘salih’ selalu dikaitkan dengan ‘amal’, menjadi amal salih. Orang salih adalah orang yang amalnya salih. Apakah amal salih? Di depan sudah kita ketahui bahwa ‘amal salih adalah amal yang didasari ilmu’ baik ilmu-ilmu jalur empirik maupun jalur taqwa. Amal tanpa ilmu akan berakibat kerusakan atau kehancuran. Dengan ilmu empirik  manusia membangun kehidupan dunia fisik untuk segala kepentingan fisik. Tanpa ilmu empirik tidak mungkin terjadi kemudahan maupun kenikmatan hidup duniawi. Ketaqwaan akan membawa manusia dengan ilmu empiriknya kepada kesempurnaan ilmu empirik sehingga menghasilkan kehidupan dunia yang baik (fi al-dunya hasanah) sekaligus kebaikan hidup di akhirat (fi al-akhirati hasanah), dan terbebas dari kerusakan dan kehancuran (‘adzaba al-naar). Dengan iman saja tanpa ilmu empirik manusia tidak tak mampu membangun dunia fisik.

Dengan demikian kita akan dapat memahami Firman Allah berikut ini adalah hukum obyektif/sunnatullah.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى ٱلزَّبُورِ مِن بَعْدِ ٱلذِّكْرِ أَنَّ ٱلأَْرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِىَ ٱلصَّـٰلِحُونَ

“Dan sungguh telah kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauh Mahfuzh bahwa bumi akan Aku wariskan kepada hamba-hamba Ku yang salih” (QS. 21: 105)*)

Jadi dunia hari ini dikuasai/diwarisi bangsa-bangsa yang salih dalam ilmu empirik. Dunia menjadi megah, akan tetapi juga terus berkembang menuju kekacauan dan kerusakan. Maka penguasa/pewaris bumi sekarang ini harus digantikan umat yang salih dalam ilmu empirik dan ilmu taqwa. Sedangkan umat Islam sekarang ini masih lemah kesalihannya dalam keduanya.


© 2012 Risalah – Bismillah, Membangun Generasi Khaira Ummah All rights reserved - Wallow theme v0.46.4 by ([][]) TwoBeers - Powered by WordPress - Have fun!