BAGIAN 13
STRATEGI PENDIDIKAN
Pendidikan adalah pembudayaan. Pendidikan adalah pembiasaan hidup dengan tata-nilai yang diyakini kebenarannya. Pendidikan di kampus Islam adalah penerapan nilai-nilai Islam dalam keseluruhan kehidupan kampus dan dilaksanakan oleh seluruh warga kampus. Lingkungan dan sarana-prasarana kampus harus menunjang tujuan pendidikan di kampus. Suasana kampus juga harus menunjang tradisi keilmuan Islam, membangun Islamic Learning Society.
Strategi pendidikan dirumuskan dengan nama Budaya Akademik Islami (BudAI). BudAI diterapkan di UNISSULA, Dikdasmen, dan Rumah Sakit Islam Sultan Agung, isinya semua sama hanya penguatannya di masing-masing Pelaksana Kegiatan ini disesuaikan. Dengan alasan itu di masing-masing Pelaksana Kegiatan diberi njama berbeda yaitu Budaya Akademik Islami (BudAI) untuk UNISSULA, Budaya Sekolah Islami (BuSI) untuk Dikdasmen, dan Budaya Rumah Sakit Islami (BuRSI) untuk Rumah Sakit Islam Sultan Agung.
BudAI/BuSI/BuRSI meliputi butir-butir sebagai berikut:
A. Membangun Islamic Learning Society
Islam adalah din yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan. Pada bagian sembilan tentang ilmu dalam Al-Qur’an, telah dikutip ayat-ayat yang menjelaskan tentang kedudukan ilmu dan orang-orang berilmu dalam Islam. Demikian juga di dalam hadis-hadisnya Rasulullah sangat menjunjung tinggi kedudukan ilmu.
“Barangsiapa melalui satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memasukkannya ke salah satu jalan di antara jalan-jalan surga, dan sesungguhnya malaikat benar-benar merendahkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang alim benar-benar akan dimintakan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang yang ada. Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka hendaklah dia mengambil bagian yang banyak.” (Hr. Abu Daud).
Demikian juga perkataan para sahabat, seperti yang diungkapkan oleh Mu’az bin Jabal:
“Tuntutlah ilmu, sebab menuntutnya untuk mencari keridhaan Allah adalah ibadah, mengetahuinya adalah khasyah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah dan mendiskusikannya adalah tasbih. Dengan ilmu, Allah diketahui dan disembah, dan dengan ilmu pula Allah diagungkan dan ditauhidkan. Allah mengangkat (kedudukan) suatu kaum dengan ilmu, dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan Imam bagi manusia, manusia mendapat petunjuk melalui perantaraan mereka dan akan merujuk kepada pendapat mereka.”
Mengingat pentingnya kedudukan ilmu dalam Islam, maka mewujudkan lahirnya para ilmuwan/ulama adalah tugas utama pendidikan dan puncaknya pada Universitas Islam. Universitas Islam harus mampu melahirkan para ulama/ilmuwan yang ilmunya menjadi solusi bagi masalah-masalah bangsa dan dunia. Sejarah membuktikan, pada masa keemasan peradaban Islam, yang juga dikenal sebagai abad ilmu pengetahuan, Universitas Islam telah mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang menjadi rujukan seluruh dunia.
Diantaranya, Ja’far Muhammad ibn Mūsā ibn Shākir, dan al-Khazini, adalah ilmuwan muslim penemu teori gravitasi pertama, jauh mendahului Newton. Ibnu Haytam adalah seorang ahli polymath, ia juga ilmuwan pertama yang menggagas metode induktif, jauh mendahului Francis Bacon. Ia juga sebagai fisikawan terbesar sepanjang masa. Ibnu al-Nafis adalah ilmuwan ahli kedokteran yang berhasil menulis The Comprehensive Book on Medicine, terdiri atas 80 jilid, menjadi sebuah Encyclopaedia kedokteran terbesar sepanjang sejarah. Masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan kelas dunia hasil didikan universitas-universitas Islam masa lalu, yang tidak bisa disebutkan satu-persatu di sini.
Apa kuncinya shingga mereka mampu menjadi seperti itu? Kuncinya tidak lain karena mereka mendapatkan didikan yang komprehensif. Mereka didik dengan model didikan Rasulullah. Model pendidikan Rasulullah tidak hanya mampu mengubah hal-hal yang bersifat lahiriah, tapi juga dapat mengubah jiwa manusia hingga menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Lahirlah Masyarakat para sahabat (salafussoleh) yang berhasil menerapkan konsep kehambaan (ubuddiyah) terhadap Allah dalam hati dan dalam kehidupan lahir mereka. Hatinya selalu berzikir pada Allah, hatinya gemetar bila disebut nama Allah, tersungkur sujud di dalam mengingat Allah.
Tujuan hidup mereka semata-mata untuk mencari keridhaan Allah dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi, khidmat pada Allah dengan cara shalat yang khusyuk, membaca Qur’an, zikrullah, puasa, berjuang dan berjihad. Khidmat kepada sesama manusia dilakukan dengan cara menegakkan berbagai bidang dalam sistem kehidupan. Karena bertaqwa, maka mereka sangat dibantu Allah dalam berbagai aspek Kehidupan.
Ke depan, pendidikan Islam harus mampu meraih kembali kejayaan yang telah diraih oleh pendidikan Islam terdahulu. Untuk mewujudkannya, perlu dibangun sebuah masyarakat pendidikan dengan atmosfir ibadah dan atmosfir akademik yang kondusif, yaitu dengan membangun Islamic Learning Society. Islamic Learning Society adalah masyarakat kampus yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, dan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup segenap civitas akademika, menjadi sumber inspirasi, motivasi, sekaligus menjadi filter dalam kegiatan ilmiah dan budaya. Kegiatan belajar mewarnai suasana kampus. Interaksi antar dosen dan mahasiswa, antara dosen dan dosen, antara mahasiswa dan mahasiswa, senantiasa mencerminkan intraksi pembelajaran.
Islamic Learning Society merupakan hasil dari mantapnya pelaksanaan Budaya Akademik Islami, sehingga tumbuhlah masyarakat akademik Islami dengan ciri-ciri sbb:
- Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi ruh seluruh kehidupan kampus, dan ruh semua ilmu. Pusat pembelajaran Al-Qur’an (Al-Qur’an Learning Center) menjadi pusat pembelajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan pusat rujukan masalah keilmuan, kemasyarakatan, dst.
- Terbentuknya motivasi kuat para guru/dosen dan siswa/mahasiswa untuk selalu meningkatkan iman-taqwa dan ilmu setinggi-tingginya sebagai manifestasi pengamalan iqra.
- Terbentuknya suasana beribadah dan berilmu sepanjang waktu, siang maupun malam, ditunjang lingkungan yang bersih sebagai manifestasi jiwa yang selalu menjaga thaharah.
- Tertibnya setiap warga kampus dalam shalat fardhu berjama’ah di Masjid.
- Masjid kampus yang selalu makmur siang dan malam karena banyaknya orang shalat fardhu maupun shalat sunnah, tadarrus Al-Qur’an, pengajian, halaqah, dan kegiatan lainnya.
- Banyaknya halaqah berdiskusi agama, ilmu, kemasyarakatan, perjuangan umat Islam, dsb di berbagai sudut kampus.
- Adab pergaulan Islami sangat dihormati, tertibnya berbusana Islami, tertibnya berkendaraan, saling salam, senyum dan sapa bila berjumpa.
- Aktifitas akademik berjalan baik dan berkualitas.
- Bahasa Arab dan Bahasa Inggris menjadi bahasa keseharian di samping Bahasa Indonesia.
- ICT dan Cyber Phylosophy sudah membudaya.
- Pelatihan-pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan dan kerganisasian menjadi bagian kurikulum yang sangat dipentingkan mengingat fungsi manusia sebagai khalifatullah fi al ardh.
- Kampus sibuk dengan berbagai kegiatan pendidikan jasmani, pelatihan fisik dan ketrampilan seperti bela diri, bela negara, dsb, yang menjadi bagian penting dalam pendidikan extra kurikuler, agar sebagai calon pemimpin tangguh menghadapi berbagai situasi dan tantangan.
- Mahasiswa dari berbagai bangsa di dunia membaur dengan mahasiswa Indonesia, dan banyaknya tamu ulama dan cendekiawan sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
- Para guru/dosen adalah figur-figur orang salih dalam ketaqwaannya, salih dalam keilmuannya, dan salih dalam jama’ahnya menjadi uswah bagi siswa/mahasiswa dan masyarakat.
- Para guru/dosen memberikan komitmen penuh kepada siswa/mahasiswa dalam membimbing agama dan ilmu.
- Membudayanya semangat membaca, yang berlanjut menjadi budaya menulis dan meneliti. Ciri ini merepresentasikan semangat basthatan fil ’ilmi.
- Universitas menjadi tempat pemantapan Islamic Worldview bagi dosen dan para calon alumninya.Universitas menentukan target-target pencapaian keilmuan tertinggi dengan standar kesetaraan universal kepada para dosen.
- Selanjutnya para dosen terus difasilitasi agar mengembangkan ketaqwaan dan keilmuannya untuk mencapai kefahaman dan hikmah, sehingga menghasilkan ilmu-ilmu yang menyelamatkan dunia, menjadi rahmatan lil’alamin.
- Universitas adalah tempat lahirnya generasi khaira ummah, generasi orang-orang salih yang insyaallah akan memberi kontribusi besar dalam membangun peradaban Islam di seluruh dunia.
Dengan demikian, pendidikan model pesantren/boarding school menjadi pilihan terbaik. Dengan model ini terselenggara pendidikan integral, pendidikan jasmani, rohani, kognitif, afektif, maupun psikomotorik dapat dilakukan dengan baik. Dengan keterpaduan (integration) ini diharapkan terbentuknya jiwa tauhid yang kuat.
B. Gerakan shalat berjama’ah
Ummah ialah suatu masyarakat yang terdiri atas orang-orang yang mempunyai aqidah tauhid, tujuannya sama, mereka menghimpun diri (berjamaah) secara harmonis dengan maksud untuk bergerak maju ke arah tujuan bersama (Ali Syariati, 1982: 159, Quraish Shihab).*)
Sosialitas manusia atau hubungan antar manusia memiliki dimensi yang sangat luas. Manusia menjadi manusia hanya kalau ia bergaul dan bekerjasama dengan manusia lain. Manusia tak mungkin hidup sendirian. Inilah hakikat sejati dari sosialitas manusia. Manusia tak dapat disebut sebagai manusia selain berkat kehidupan sosialnya, kebersamaannya dengan yang lain. Sosialitas merupakan ciri hakiki yang tak dapat diingkari, bukan ciri yang ditambahkan pada manusia atau kondisi yang ditentukan dari luar, melainkan sesuatu yang melekat pada dirinya sejak kelahirannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hidup bersama (berjama’ah) merupakan fitrah manusia. .
Keberadaan masyarakat merupakan sesuatu yang objektif. Al-Qur’an mengemukakan gagasan sejarah bersama, tujuan bersama, catatan-catatan perbuatan, kesadaran, pengertian, perasaan dan perilaku bersama bagi masyarakat (ummah). Al-Qur’an menjelaskan suatu kehidupan tertentu yang merupakan keberadaan bersama dan masyarakat. Kehidupan bersama bukan sekedar merupakan kiasan atau sekedar simbol, melainkan suatu fakta, demikian pula kematian bersama juga merupakan sebuah fakta.
Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menegaskan. Firman-Nya:
”Dan setiap masyarakat mempunyai ketentuan, maka apabila telah datang ketentuannya, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun, dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. Al-A’raf / 7:34). Ayat ini merujuk pada kehidupan dan keberadaan masyarakat (ummah) bukan pada kehidupan individu.
Setiap masyarakat (ummah) akan diseru ke catatan amalnya.*).
Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (QS.45:28).
Dari sini diketahui bahwa bukan hanya individu yang ditentukan oleh catatan tertentu perbuatannya sendiri, tetapi masyarakat juga ditentukan oleh catatan-catatan perbuatan sendiri, sebab ia juga merupakan entitas yang sadar, bertanggung jawab, ia bebas berkehendak dan bertindak (Shadr, 1993:99).*)
Al-Qur’an berkali-kali memberikan contoh betapa perbuatan satu individu dinisbahkan pada kelompok secara keseluruhan, atau dosa suatu generasi dikaitkan dengan generasi-generasi berikutnya. Hal ini karena individu mempunyai pemikiran dan kehendak bersama yang sama, mereka mempunyai jiwa kemasyarakatan yang sama. Misalnya, dalam kisah tentang Tsamud, perbuatan membunuh unta Nabi Shaleh, yang merupakan perbuatan individu, dikaitkan dengan bangsa secara keseluruhan; fa’aqaruha (mereka telah membunuh unta betina itu). Keseluruhan bangsa itu dianggap bertanggung jawab atas kejahatan tersebut. Akibatnya mereka semua dipandang layak dihukum karena melakukan kejahatan itu:
”Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka dengan tanah”. (QS.91:14).
Allah menjatuhkan hukuman-Nya, secara bersama, atas orang-orang Tsamud, karena keseluruhan bangsa itu bersikap sama dan mengiyakan tindakan satu individu, dan ketika keputusannya dilaksanakan, sesungguhnya hal itu adalah keputusan keseluruhan bangsa itu.
Dari fitrah manusia tersebut di atas, untuk meraih sukses, manusia membutuhkan kerja sama, silaturrahim atau jama’ah. Tidak ada sukses sendirian, yang ada adalah sukses jama’ah. Firman-Nya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 07: 96)*)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. 61 : 4)*)
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.*)
Shalat berjama’ah adalah sarana membangun jamaah (masyarakat). Salat berjamaah adalah representasi jamaah sesungguhnya dalam menghimpun diri secara harmonis dengan maksud untuk bergerak maju ke arah tujuan bersama. Karena fitrah manusia adalah berjama’ah, dan amat pentingnya untuk mencapai tujuan bersama maka Allah mewajibkan shalat berjama’ah.
C. Gerakan berbusana Islami
Apakah ide dasar tentang pakaian? Yang pertama, Ar-Raghib Al-Isfahani — seorang pakar bahasa Al-Quran– menyatakan bahwa pakaian dinamai tsiyab atau tsaub, karena ide dasar adanya bahan-bahan pakaian adalah agar dipakai.*) Jika bahan-bahan tersebut setelah dipintal kemudian menjadi pakaian, maka pada hakikatnya ia telah kembali pada ide dasar keberadaannya.
Ide dasar kedua adalah tertutupnya aurat.
Al-Quran surat Al-’Araf (7): 20-22 menjelaskan peristiwa ketika Adam dan Hawa berada di surga:
“Setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan pada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata, “Tuhan kamu melarang kamu mendekati pohon ini, supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (di surga).”
“ …setelah mereka merasakan (buah) pohon (terlarang) itu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga…” (QS. 7: 22)
Terlihat jelas bahwa ide dasar yang terdapat dalam diri manusia adalah tertutupnya aurat, namun karena godaan setan, aurat manusia terbuka.
Al-Quran juga mengingatkan:
Wahai putra-putra Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia (telah menipu orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua (QS. 7: 27).
Ide dasar ke tiga berfungsi menangkal sengatan panas, dingin, dan bahaya dalam peperangan:
Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (QS. 16: 81)
Ide dasar ke empat pakaian sebagai penyiksa berat di akhirat. Firman Allah: (QS 14: 49-51)
Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.
Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka,
agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.
Dari ayat-ayat yang diuraikan di atas para ulama menyimpulkan bahwa pada hakikatnya menutup aurat adalah fitrah manusia yang diaktualkan pada saat ia memiliki kesadaran. Kerena menutup aurat adalah fitrah manusia, maka manusia primitif pun selalu menutupi apa yang dinilainya sebagai aurat.
Karena menutup aurat adalah fitrah manusia, maka untuk menjaganya dari godaan setan, Allah mewajibkan bagi perempuan untuk memakai jilbab, dengan ketentuan-ketentuan yang dijelaskan dalam ayat-ayat lain.
D. Gerakan thaharah
Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan. Ditandaskan di dalam Al Quran, betapa penting kedudukan orang-orang yang mensucikan diri di mata Allah sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah 222:
”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”
Sementara firman Allah lainnya yang berkenaan kedudukan hamba yang bersih di mata Allah, terdapat dalam surat Attaubah 108 yang artinya:
”Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”
Bahkan menjaga kesucian dan kebersihan termasuk bagian dari ibadah, sebagai bentuk qurbah, bagian dari taabbudi. Jadi, merupakan kewajiban yang berkedudukan sebagai kunci dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Dalil akan hal itu bisa disimak dari sabda Rasul Saw., “Kunci shalat adalah suci“*). Lebih ditegaskan lagi dalam hadits lain yang berbunyi: ”Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang tidak bersih”.*)
Pada bagian lain Islam meletakkan kebersihan/kesucian sebagai salah satu cabang dari keimanan sebagaimana hadits Rasulullah, “bersuci itu termasuk bagian dari iman“.*)
Dengan demikian menjadi jelas bagi kaum muslim bahwa melaksanakan thaharah adalah perbuatan iman dan sebagai kunci ibadah yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam rangka mendekatkan diri beribadah kepada Allah Swt.
Tidak berhenti pada ranah pribadi-pribadi kaum muslim secara individual, Islam amat memperhatikan perkara kesucian/kebersihan pada ranah lingkungan, dimana Nabi Muhammad bersabda sebagai berikut: ”Bersihkan lingkungan rumah kalian” *)
Dari sabda itu, setidaknya diperoleh gambaran bahwa sejak 14 abad lalu Islam sudah mendengungkan pesan kepedulian terhadap lingkungan dengan mendorong keadaan lingkungan yang sejahtera penuh kenyamanan sebagai tempat tinggal (rumah) bagi penghuninya dengan ”thaharah lingkungan”. Pesan itu sekaligus meneguhkan salah satu peran penting yang harus dilaksanakan umat Islam sebagai pengemban misi ke-khalifah-an, bersangkut-paut dengan persoalan bagaimana keharusan menjaga lingkungan. Maka thaharah menjadi salah satu urusan penting yang melekat dalam diri umat Islam di setiap ruang dan sepanjang waktu tentunya.
Betapa penting nilai-nilai thaharah dalam Islam, oleh karena itu kaum muslim setidaknya dituntut untuk: pertama, memahami konsep-konsep tentang thaharah dengan baik & benar, kedua harus menjalankannya dalam 24 jam (baca: keseharian) kehidupan karena thaharah adalah kunci iman & ibadah, ketiga menjadikannya sebagai gerakan kolektif secara berjamaah di tengah masyarakat & lingkungannya karena kebersihan adalah salah satu indikator akhlak individu maupun jamaah/umat yang kentara atau tampak sebagai refleksi ke-Islaman mereka.
Karena itu umat harus dididik dan digerakkan untuk mempraktikkan ajaran kebersihan dalam kehidupan secara sempurna. Sebab, sesungguhnya Islam dibina atas dasar kebersihan, sabda-sabda Nabi Muhammad saw berikut menjelaskan hal itu: pertama, “Islam didirikan di atas kebersihan”*), kedua, “suci itu sebagian iman”*), ketiga, “kebersihan itu sebagian iman”*). Terlebih ketika kita berbicara dunia pendidikan Islam, dimana visi dan cara pandang Islam diletakkan sebagai landasan utamanya. Pemahaman dan implementasi thaharah dalam proses pendidikan semestinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari paradigma pendidikan Islam itu sendiri.
Dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad Saw menyampaikan sabda: “indahkanlah pakaian-pakaianmu dan tempat tinggalmu supaya kamu ibarat tahi lalat yang tumbuh di muka bumi yang indah jelita, menambahkan keindahan dan kecantikannya, supaya kamu menjadi pemanis yang menambah manisnya masyarakat dunia”*). Hadits Rasulullah sebagaimana telah diuraikan, bila ditelaah lebih jauh bisa dimaknai bahwa: Islam kita yakini sebagai agama yang niscaya unggul, oleh karena itu ajarannya menghendaki (baca: membawa) umat Islam (pasti) memiliki keistimewaan. Salah satu diantara keistimewaan itu adalah “keadaan umat Islam yang terjamin kesucian dan kebersihannya”. Dengan keadaan tersebut umat Islam niscaya mampu memperindah dan mempercantik kehidupan.
Konsekuensinya, menjadi keharusan bagi setiap muslim agar mengusahakan kepribadian suci dan bersih, lalu secara bersama-sama mengusahakan terbentuknya kepribadian kolektif jamaah yang suci dan bersih hingga pada akhirnya tercipta umat yang menghiasi masyarakat dan dunia dengan indahnya kehidupan yang suci & bersih, melalui penguasaan disiplin ajaran dan pengamalan best practise ber-thaharah dalam diri umat Islam secara istiqomah. Usaha-usaha yang relevan maupun proses-proses yang efektif bisa dikembangkan melalui dunia pendidikan Islam baik secara formal di bangku sekolah/kampus maupun secara informal yakni di lingkungan keluarga.
E. Gerakan keteladanan
1. Urgensi Keteladanan
Naluri manusia adalah taqlid atau meniru, khususnya pada orang yang dicintai dan disayangi. Apa yang dilakukan oleh orang yang dicintai dan disayangi, tanpa berpikir lebih panjang segera saja diikuti dan dicontoh. Dalam keadaan demikian, taqlid atau meniru ini ibarat uang logam, memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, atau ibarat pisau, taqlid memiliki dua mata pisau yang sama-sama tajam. Pada satu sisi, taqlid pada sesuatu yang baik sangat bermanfaat, pada sisi lain, taqlid pada sesuatu yang jelek (buruk) merupakan sesuatu yang merugikan. Untuk itu, setiap orang yang dicintai dan disayangi harus senantiasa berusaha untuk berbuat dan bertingkah laku yang baik, agar apa yang ditiru dari dirinya adalah sesuatu yang baik. Pada sisi lain, orang tersebut juga harus menjaga dan memelihara diri dari perbuatan yang tidak baik, sehingga orang-orang yang mencintai dan menyayanginya tidak sempat untuk meniru perbuatan dan tingkah laku yang tidak baik.
Hal ini perlu mendapatkan perhatian, karena proses peniruan atau taqlid ini bisa terjadi karena sengaja atau pun tidak sengaja. Meniru secara sengaja dikenal dengan istilah modelling, yaitu menjadikan seseorang, khususnya orang yang dicintai dan disayangi sebagai model. Dari padanya segala sesuatu ditiru atau dicontoh, tidak perduli apakah itu baik atau buruk. Sementara proses peniruan pun bisa terjadi tanpa sengaja yang dikenal dengan istilah osmosis atau contagion, yaitu terjadi proses perembesan nilai, sikap dan tingkah laku, karena volume dan intensitas atau seringnya terjadi interaksi dan komunikasi antara orang yang meniru dan ditiru.
Berkaitan dengan uraian tersebut di atas, taqlid atau peniruan merupakan cara atau metode pendidikan yang efektif untuk menanamkan suatu nilai, sikap dan tingkah laku yang baik, yang dikenal dengan metode Keteladanan. Sebagai sebuah metode, Keteladanan, khususnya dari orang yang dicintai dan disayangi, dalam hal ini orang tua atau pendidik harus lebih banyak atau sering ditampilkan dalam setiap event atau gejala atau fenomena atau peristiwa pendidikan. Lebih-lebih pada saat ini, ketika keteladanan merupakan sesuatu yang langka, dalam arti sesuatu yang sulit ditemukan, lebih-lebih pada sosok pemimpin, orang tua, bahkan dari pada pendidik.
Di antara metode keteladanan yang dapat digunakan dalam proses pendidikan, atau proses penanaman dan perubahan nilai, sikap dan tingkah laku, atau proses transformasi budaya, di samping dari pendidik langsung, adalah dengan menampilkan sosok teladan yang lain, yang telah diakui dan diyakini pantas dan layak untuk menjadi teladan, seperti tokoh-tokoh terkenal di semua aspek/bidang kehidupan. Dalam hal ini, tidak ada sosok yang pantas untuk menjadi teladan, kecuali nabi besar Muhammad Saw. Lebih-lebih dalam pelaksanaan Budaya Akademik Islami di kampus yang kita cintai, Universitas Islam Sultan Agung.
Upaya untuk dapat menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan ini harus diawali dengan berusaha mencintai dan menyayangi beliau, yaitu dengan mengenal lebih baik sirah kehidupan beliau. Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang.
Apalagi dalam konteks upaya kita untuk menjalankan Budaya Akademik Islami, mutlak diperlukan pemahaman yang baik terhadap Islam. Untuk ini, mengenal lebih baik sirah nabi Muhammad Saw. sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, karena pada diri beliaulah gambaran Islam yang paripurna, Islam yang sempurna, Islam yang utuh, meliputi semua unsurnya, Aqidah, Ibadah dan Akhlak, Iman, Islam dan Ihsan.
2. Landasan Filosofis: Muhammad Saw. Sebagai Uswah Hasanah
Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. 33: 21)
Dari firman Allah tersebut di atas, dapat dipahami bahwa:
Pertama, tidak diragukan dan tidak ada keraguan untuk menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan, karena Allah Swt. juga berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. 68: 4).
Di samping itu, Allah Swt. pun telah menempatkan Rasulullah Saw. pada tempat yang terpuji atau maqaamam mahmudah. (QS. 17: 79)
Kedua, Allah Swt. memberikan syarat bagi siapa saja yang akan menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan, yaitu: 1) Orang yang dalam melakukan amal ibadah tidak ada niat atau tujuan yang diharapkan kecuali hanya keridlaan atau rahmat dari Allah Swt. Tidak ada yang diharapkan kecuali kasih sayang dari Allah Swt. 2) Orang yang senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir, hari kemudian, hari perhitungan, hari pembalasan, atau al-isti’daatu li yaumi al-raakhil, sebagai salah satu ciri atau tanda ketakwaan kepada Allah Swt. 3) Orang yang senantiasa mengingat atau dzikir kepada Allah Swt.
Dengan demikian, secara filosofis, upaya untuk menjadikan diri Rasulullah Saw. sebagai teladan bagi hidup dan kehidupan seseorang tidak cukup hanya mengakui kelebihan dan keutamaan Rasulullah Saw. secara historis-normatif saja, tetapi dituntut untuk meningkatkan keimanan dirinya pada tingkatan Muhlishin dan pada puncaknya menjadi Muttaqien. Tidak serta merta, setelah seseorang membaca dan mempelajari kelebihan dan keutamaan Rasulullah Saw. melalui sirahnya sebagaimana diuraikan dalam sejarah (historis) dan firman-firman Allah Swt. (normatif) dapat mengambil teladan dari Rasulullah Saw.
Sebaliknya, bagi orang beriman tetapi tidak mau menjadikan diri Rasulullah Saw. sebagai teladan, maka dia akan memperoleh kerugian, tidak hanya ketika hidup di dunia, tetapi juga kelak di kehidupan akhirat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:
“Barang siapa yang taat kepadaku dia akan masuk surga dan yang maksiat kepadaku (tidak menteladaniku) dialah orang yang tidak mau masuk surge”. (HR Bukhari)
Sudah sepantasnya, setiap muslim memiliki cita-cita untuk meraih kebahagiaan hidup tidak hanya di dunia, tetapi juga di akherat, serta terbebas dari siksa api neraka, sebagaimana do’a yang senantiasa dibaca, seperti yang diajarkan oleh Allah Swt.:
Dan di antara mereka ada yang berdo’a: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. (QS. 2: 201)
3. Masing-masing Diri Adalah Teladan
Rasulullah Saw bersabda: “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai tanggungjawab kepemimpinannya” (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Umar)
Allah Swt. Berfirman dalam QS. Shaff ayat 3:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.
Dari kedua dalil tersebut di atas dapat dipahami bahwa setiap diri adalah pemimpin dan setiap diri adalah teladan artinya seorang pemimpin adalah teladan. Salah satu tugas utama pemimpin adalah tampil di depan sebagai teladan atau motivator, artinya apa saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin dapat menjadi motif atau dorongan bagi orang lain yang dipimpinnya untuk melakukan hal yang sama, karena itu setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin adalah motivator.
Salah satu aspek utama gerakan keteladan adalah kesadaran setiap individu khususnya pemimpin, bahwa dirinya adalah motivator yang tugasnya mengajak orang lain untuk ber’amar ma’ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah. Artinya setiap pemimpin adalah motivator dan setiap motivator adalah khaira ummah.
Dengan demikian cita-cita membangun generasi khaira ummah dapat tercapai apabila setiap pendidik termasuk pemimpinnya telah menjadi khaira ummah, artinya keteladanan adalah metode pendidikan yang sangat efektif.
F. Gerakan keramahan Islami
Ucapan Bismillahirrahmanirrahim adalah niat dan ruh seluruh perbuatan orang Islam. Tanpa niatan tersebut maka amal perbuatannya itu tidak ada nilainya di sisi Allah.
“Setiap pekerjaan penting yang tidak dibuka dengan bismillahirrahmanirrahim akan terpotong”. (Abu Daud dan Ibnu Majah).
Dengan menyebut namanya di awal, maka pekerjaan tersebut akan berbobot dan bernilai ibadah. Ibadah haruslah didasari ilmu. Maka setelah mengucapkan basmalah berarti ada kewajiban melaksanakan perbuatannya dengan ilmu. Tanpa kata ini kerja seseorang akan kehilangan makna. Dan ketika telah memulai kerja dengan langkah awal yang benar maka akan mengawali pula sukses berikutnya.
Di dalam basmalah tercantum tiga nama, yaitu Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Menurut Ibnu Al-Qayyim, tiga nama ini adalah rangkuman dari semua makna nama-nama Allah. Intisari dari tiga rangkaian nama itu mengajarkan kita untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam semua aktivitas dengan semangat nama-Nya yang Rahman dan Rahim.
Basmalah merupakan pernyataan niat bahwa perbuatan yang akan dilakukan adalah karena Allah, karena melaksanakan perintah Allah, dengan nama Allah, atau atas nama Allah. Juga berarti mengharap pertolongan Allah, berharap dan bergantung hanya kepada Allah. Ucapan ini menunjukkan sikap bertauhid. Allah, Ar-Rahman, Ar-Rahim adalah sifat Allah yang paling penting. Bila mengambil makna yang sederhana yaitu ‘kasih sayang’ atau Allah adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka itu adalah keperluan dasar setiap mahluk-Nya untuk mendapatkan kasih sayang-Nya. Dan itu pula kebutuhan dasar setiap manusia.
Semenjak diciptakan manusia adalah ‘hasil’ kasih sayang ibu-bapaknya. Kemudian Allah menyimpannya di tempat yang disebut ‘rahim’, ibu. Nama tersebut menggambarkan kasih sayang total seorang ibu kepada anaknya, suatu tempat yang sangat sempurna untuk mengantar pertumbuhan awal selama anak dalam kandungan ibu. Anak lahir masih tetap bergantung kepada kasih sayang ibu, kemudian bapaknya, kemudian saudara-saudaranya, kemudian lingkungannya. Masuk sekolah mengharap kasih sayang guru-gurunya. Begitulah seterusnya terjun kedalam masyarakat, manusia saling memerlukan kasih sayang. Anak buah ingin disayang atasannya, pemimpin ingin disayang rakyatnya, rakyat ingin disayang pempimpinnya. Laki-laki ingin disayang perempuan, perempuan ingin disayang laki-laki. Begitu pula kasih sayang merupakan kebutuhan dasar pasien.
Kasih sayang adalah fitrah manusia. Kehilangan kasih sayang manusia akan menderita. Anak yang tidak mendapat kasih sayang di rumahnya maka akan mencarinya di luar rumah. Maka jadilah ia anak nakal. Demikianlah bila pemimpin tidak dicintai lagi oleh rakyatnya atau rakyat tidak lagi dicintai pemimpinnya maka Negara akan rusak.
Kasih sayang melahirkan keramahan sejati. Orang senang mendapat keramahan, sebaliknya ketidak ramahan akan berakibat hubungan yang buruk.
Rasulullah Muhammad Saw adalah uswah pemimpin sejati yang penuh kasih sayang dan cinta kepada umatnya dan seluruh manusia.
Firman-Nya:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS 9: 128)
Sesaat sebelum wafat beliau masih memikirkan nasib umatnya dengan ucapannya ‘ummati, ummati’. Beliau adalah pemimpin yang paling sukses, sekalipun misi yang dibawanya bertolak belakang dengan keyakinan masyarakat di negerinya bahkan di seluruh dunia, bahkan dimusuhi, beliau sukses karena kasih sayang dan keramahannya. Semua masalah yang dihadapinya diselesaikan dengan tuntas karena kasih sayang dan keramahannya.
Kasih sayang dan keramahan adalah syarat sukses membangun rumah tangga, membangun jama’ah, membangun masyarakat dan negara. Negara akan kuat dalam pangkuan masyarakat marhamah. Kasih sayang dan keramahan adalah juga syarat sukses membangun dunia pendidikan dan dakwah. Kampus Islami adalah kampus kasih sayang dan keramahan.
G. Gerakan kualitas hidup
Hidup berkualitas adalah hidupnya para shalihin, uswahnya adalah Rasulullah Muhammad Saw., landasannya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kualitas, sebagaimana telah dibahas di depan adalah karena kesalihannya. Kualitas taqwa berarti kesalihan dalam ketaqwaan, kualitas ilmu berarti kesalihan dalam ilmu-ilmu rasional empirik, dan kualitas jama’ah sering disebut kesalihan sosial, yaitu khairu an naas anfa’uhum li an naas*), paling bermanfaat bagi jama’ahnya/manusia.
WHO memberi definisi sehat adalah meliputi sehat jasmani, ruhani, dan sosial. Kualitas jasmani adalah jasmani yang sanggup memikul beban kualitas ruhani dan kualitas sosial dengan sebaik-baiknya. Jasmani manusia adalah bagian dari alam semesta yang tugasnya adalah melayani manusia.
Kehidupan berkualitas berarti menjalani hidup keseharian dengan kesalihan. Bagaimanakah hidup berkualitas? Di depan telah diuraikan bahwa Allah Swt telah menciptakan kehidupan alam semesta dengan ritme waktu. Di dalamnya ada waktu-waktu dan tempat-tempat yang baik maupun yang kurang atau tidak baik untuk aktifitas manusia agar memperoleh keberkahan-Nya, atau dengan kata lain untuk sukses dunia akhiratnya. Fi ad dunya hasanah wa fi al akhirati hasanah, waqina ‘adzaaba an naar.
Dalam Al-Qur’an Surah Al Muzzammil ayat 1-8 Allah Swt memberikan petunjuk-Nya:
- Hai orang yang berselimut (Muhammad),
- Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari], kecuali sedikit (daripadanya),
- (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
- atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil.
- Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.
- Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
- Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).
- Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
Begitulah ritme keseharian yang berkualitas. Untuk menjadikan hidup berkualitas, malam kita disuruh bangun, bukannya disuruh tidur karena tidur itu biasa saja. Tidurnya sedikit saja, yaitu seperdua malam atau lebih sedikit atau kurang sedikit. Bila lail (malam) diukur mulai waktu ‘isya sampai masuk waktu subuh, maka itu berarti sekitar 9 jam. Seperduanya atau lebih sedikit atau kurang sedikit berarti sekitar 4-5 jam. Pada beberapa ayat lain Allah bahkan memuji hamba-hamba-Nya yang tidur lebih sedikit.*) Di waktu bangun malam itulah saatnya kita shalat tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Tahajjud dan membaca Al-Qur’an adalah perintah harian Allah Swt kepada kita kaum musllimin. Adapun waktu pagi sampai datangnya malam adalah saatnya bekerja keras (urusan yang panjang). Dan di seluruh waktu kita harus berdzikir dan beribadah dengan penuh ketekunan. Ibadah wajib di seluruh waktu adalah shalat fardhu 5 waktu, dan bagi laki-laki shalat berjama’ah di Masjid.
Bagaimana jasmani kita sanggup mendukung tugas berat tersebut? Jawaban pertama adalah makan yang benar dan baik atau halal dan thoyyib, dan ke dua adalah olah raga yang benar dan teratur. Makan yang benar dan baik tentu saja mengikuti uswah Rasulullah Saw. Hal tersebut sudah banyak dibahas.
Olah raga atau pendidikan jasmani ada pula indikasinya dalam Sirah Nabi Muhammad Saw. Beliau selalu berjalan dengan cepat sehingga para sahabat selalu tertinggal.*)
………. Baginda berjalan dengan langkah yang cergas dan bukan langkah pendek. Apabila baginda berjalan nampak seolah-oleh baginda menuruni bukit. ………..
Tentu saja jarak tempuh cukup jauhnya untuk mendatangi dari satu ke tempat lain dalam dakwahnya.
Karena tubuh manusia mengikut sunnatullah sebagaimana seluruh alam, maka untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan tubuh, manusia harus berupaya mengikut hukum-hukum fisik tubuh manusia. Itulah kesalihan jasmani.
Ilmu pengetahuan kedokteran masa kini telah menemukan cara berolah raga yang terukur untuk mencapai kualitas kesehatan yang prima. Olah raga tersebut dikenal dengan nama aerobic. Prinsip olah raga ini adalah bagaimana menggerakkan tubuh dalam waktu tertentu dengan kecepatan tertentu secara teratur. Misalnya lari, atau jalan cepat. Jalan cepat! Itulah yang dilakukan Rasulullah Saw. Itulah yang paling mudah, murah dan dapat dilaksanakan kapan saja, di mana saja. Akan tetapi olah raga lain seperti bersepeda, berenang, senam, dan sebagainya juga bisa. Tujuan aerobic adalah agar jantung dan paru sanggup menyediakan oksigen dan glikogen untuk membangun tenaga yang segera diperlukan dalam jumlah banyak. Bila paru dan jantung terlatih dengan teratur dan menjadi kuat, maka seluruh organ tubuh akan mendapatkan jaminan terpenuhinya keperluan energinya kapanpun dan tubuh menjadi sehat.
Kualitas hidup adalah kualitas kehidupan orang-orang salih. Mereka salih dalam ketaqwaan, salih dalam keilmuan, salih sosial/jama’ah, dan salih jasmani.